Keamanan siber kini bukan lagi sekadar isu teknis, melainkan kebutuhan strategis organisasi. Para pelaku ancaman bergerak semakin cepat, menggunakan metode yang sangat canggih, dan kian sulit terdeteksi. Risiko ini terus berkembang seiring meningkatnya serangan dari kelompok yang didukung negara (nation-state group), sindikat kriminal siber terorganisir, hingga ancaman yang muncul dari pihak internal sendiri.
Ransomware yang melumpuhkan operasional hingga pencurian kredensial pada sistem cloud, dapat terjadi dalam hitungan jam. Sementara, pemulihannya bisa berlangsung berbulan-bulan.
Model kerja hybrid, penggunaan perangkat yang semakin beragam, serta sistem yang terfragmentasi juga memperluas attack surface. Akibatnya, blind spot semakin banyak, sementara tool yang terpisah dan deteksi yang terlambat membuat organisasi lebih mudah tertinggal dalam menghadapi ancaman.
Dalam kondisi seperti ini, pendekatan reaktif tidak lagi memadai. Keamanan harus beroperasi secara real-time, berbasis intelijen, serta terintegrasi di setiap lapisan infrastruktur. Pertanyaannya bukan lagi tentang apakah organisasi Anda akan menjadi target serangan, melainkan seberapa siap Anda saat ancaman tersebut benar-benar terjadi.
Serangan oleh malicious insider menimbulkan kerugian terbesar, rata-rata $4,92 juta per insiden.
Organisasi yang menggunakan AI dan otomatisasi secara ekstensif mampu mempersingkat siklus penanganan pelanggaran hingga 80 hari dan menghemat $1,9 juta per insiden dibandingkan organisasi yang tidak menggunakannya.
Ransomware ditemukan pada 44% insiden pelanggaran, meningkat secara signifikan dari 32% pada tahun sebelumnya.
Sumber: Verizon DBIR 2025
Ancaman internal mendominasi hingga 70% pelanggaran yang melibatkan insider, rasio tertinggi secara global.
“Risikonya adalah governance yang lemah dan sistem yang terfragmentasi dapat mengubah data menjadi liabilitas, bukan keunggulan kompetitif. CIO harus beralih dari pendekatan defensif menuju strategi data yang proaktif dan ofensif, serta memposisikan AI sebagai pendorong utama pertumbuhan bisnis.”
Ramprakash RamamoorthyDirector of AI Research, ManageEngine
“Dalam lanskap baru ini, blind spot bertambah dengan cepat. Cara untuk mendapatkan kembali kendali adalah dengan meningkatkan visibilitas, memahami apa yang berjalan, di mana lokasinya, dan bagaimana perilakunya.”
Romanus Raymond PrabuDirector of Technology, ManageEngine
"Gartner memprediksi bahwa pada 2026, generative AI dapat menurunkan insiden keamanan yang dipicu karyawan hingga 40% melalui pelatihan yang lebih personal dan sesuai dengan perilaku. AI yang dilengkapi telemetry kontekstual dan behavioral analytic dapat secara signifikan meringankan beban tim keamanan yang kekurangan sumber daya.”
Subhalakshmi GanapathyChief IT Security Evangelist
“Dampak AI pada lanskap keamanan siber sangat besar, ia mempercepat evolusi kontrol keamanan sekaligus mendorong lonjakan ancaman baru yang muncul dari pola serangan berbasis AI.”
Sujoy BanerjeeBusiness Director, ManageEngine
Pelaku ancaman modern tidak lagi mengikuti pola serangan yang dapat diprediksi. Mereka
mengombinasikan taktik klasik seperti phishing dan brute force dengan ransomware,
serangan supply chain, atau insider-assisted intrusion, sering kali melewati atau
menjalankan beberapa tahap sekaligus.
Platform cybersecurity ManageEnginedirancang untuk menghadapi pola ancaman
yang kompleks ini. Kami mendeteksi risiko sejak awal dan menghentikan aktivitas
berbahaya di setiap tahap serangan. Berikut cara kami melindungi sistem Anda:
Sebelum menjalankan tindakan serangan, banyak penyerang terlebih dahulu memetakan celah keamanan dengan memindai jaringan, melakukan system fingerprinting, atau mengumpulkan kredensial yang terekspos.
ManageEngine menghentikan fase reconnaissance ini sejak awal melalui kombinasi network monitoring, firewall analysis, dan vulnerability management. Platform SIEM kami mengolah threat intelligence dan mengorelasikan indikator aktivitas mencurigakan, seperti kegagalan login atau query yang tidak wajar, menjadi alert real-time yang dapat langsung ditindaklanjuti.
Saat upaya akses mulai terjadi, pendekatan Zero Trust menerapkan autentikasi berbasis konteks, sementara proteksi identitas dan endpoint memperkuat perangkat dengan MFA, pembatasan hak akses, dan kontrol privilege. Lapisan keamanan ini bekerja bersama untuk memastikan celah seperti sistem yang belum dipatch atau password yang digunakan ulang tidak berubah menjadi pintu masuk serangan.
Jika penyerang berhasil melewati autentikasi melalui kredensial yang dicuri, celah kerentanan, atau bantuan internal, mereka dapat dengan cepat berpindah ke sistem lain dan menargetkan akun-akun dengan privilege. Deteksi awal terhadap pola pergerakan dan aktivitas yang tidak biasa menjadi kunci untuk mencegah perluasan akses secara diam-diam.
ManageEngine mencegah tahap ini melalui solusi IAM yang menegakkan prinsip least privilege, mendeteksi akun tidak aktif, dan menandai eskalasi hak akses yang berisiko. Pemantauan jaringan mengidentifikasi pemindaian tidak sah, lateral traffic, atau salah konfigurasi firewall yang biasanya dimanfaatkan penyerang untuk berpindah sistem. Perlindungan endpoint membatasi penyalahgunaan aplikasi, menghentikan penggunaan tool remote yang tidak sah, dan meninjau pola akses yang tidak biasa di seluruh endpoint.
Behavioral analytic memperkuat deteksi dengan mengidentifikasi aktivitas pengguna yang tidak biasanya sebelum kredensial disalahgunakan. Seluruh kontrol ini bekerja secara terpadu untuk menghentikan upaya penyerang yang bergerak diam-diam di dalam jaringan.
Setelah berhasil masuk, penyerang biasanya berupaya memperkuat kendali dengan mengeksploitasi akun yang tidak aktif, akses yang salah konfigurasi, atau privilege yang berlebihan. Mereka meningkatkan privilege dan menciptakan persistensi agar dapat bertahan tanpa terdeteksi. Di sisi lain, insider berbahaya menjadi risiko besar karena telah melewati lapisan autentikasi dan sering memahami celah dalam security posture organisasi.
ManageEngine menutup celah ini melalui kebijakan just-in-time (JIT) yang menghilangkan hak admin permanen. Solusi IAM mengidentifikasi akun berisiko dan over-privileged yang membuka jalur eskalasi, sementara UEMS menegakkan prinsip least privilege di endpoint serta mendeteksi skrip abnormal, scheduled task mencurigakan, dan perubahan startup yang mengindikasikan backdoor.
Melalui korelasi SIEM, perubahan privilege yang tidak wajar, percobaan akses, dan penyimpangan dari baseline dianalisis secara terpadu untuk mengungkap pergerakan tersembunyi. Kombinasi lapisan pertahanan ini menutup peluang penyerang untuk membangun persistensi secara diam-diam di ekosistem IT Anda.
Pada tahap ini, penyerang mulai melakukan sabotase dengan menyebarkan ransomware, menjalankan skrip destruktif, atau mengganggu workflow bisnis. Beberapa teknik serangan, seperti drive-by download, bahkan langsung mengeksekusi payload tanpa melalui tahap awal serangan. Di titik ini, deteksi dan penahanan secepat mungkin menjadi penentu sebelum dampak meluas.
ManageEngine menghentikan eskalasi serangan dengan kontrol keamanan granular, mulai dari application allowlisting, deteksi anomali berbasis AI, hingga pemblokiran perilaku dengan machine learning. Aktivitas berbahaya terdeteksi secara real time, dan endpoint yang terindikasi kompromi langsung diisolasi untuk mencegah penyebaran lebih lanjut. SIEM dan IAM bekerja bersama untuk mengungkap penyalahgunaan privilege, akun rogue, serta pola akses tidak wajar, lalu memicu respons otomatis sebelum serangan berkembang.
Risk scoring berkelanjutan membantu memprioritaskan aset bernilai tinggi, sehingga tim keamanan dapat melakukan penahanan lebih cepat dan tepat. Ketika skor risiko pengguna meningkat, sistem secara otomatis mencabut akses dengan privilege tinggi, memperkecil blast radius dan menghentikan serangan sebelum mencapai tahap eksekusi penuh.
Setelah mendapatkan akses, attacker akan menyalin data sekaligus menghapus jejak aktivitas, baik lewat channel terenkripsi, perangkat USB, maupun sinkronisasi cloud.
ManageEngine membantu mengurangi risiko ini melalui kebijakan endpoint DLP yang mencegah transfer data tanpa izin dan membatasi penggunaan perangkat eksternal. UEMS melindungi integritas data melalui mekanisme shadow copy backup, yang memungkinkan proses rollback cepat saat terjadi insiden ransomware. Penyimpanan log yang diperkuat memastikan peretas tidak bisa menghapus bukti, sementara penghentian layanan mendadak atau manipulasi kebijakan akan langsung memicu peringatan instan ke tim keamanan.
Platform backup dan recovery mempercepat pemulihan identitas, konfigurasi, dan sistem kritikal, sehingga downtime dapat ditekan seminimal mungkin. Dengan lapisan pertahanan ini, organisasi dapat mencegah pencurian data secara senyap, mempertahankan bukti forensik, dan menjaga kelangsungan operasional, bahkan saat menghadapi upaya eksfiltrasi yang merusak.

AI tidak hanya mendorong inovasi bisnis, tetapi juga mengubah cara serangan siber dilakukan. Saat ini, berbagai pelaku ancaman memanfaatkan AI untuk mengotomatisasi phishing, membuat deepfake, menemukan celah keamanan lebih cepat, dan melancarkan serangan berskala besar.
Ketika ancaman berkembang semakin cepat, strategi keamanan pun harus ikut beradaptasi. Organisasi membutuhkan pertahanan berbasis AI untuk mendeteksi lebih dini, merespons lebih cepat, dan tetap selangkah di depan attacker.
ManageEngine telah berinvestasi dalam riset dan pengembangan AI selama lebih dari satu dekade. Framework AI kami dikembangkan secara in-house dengan fokus pada contextual intelligence dan explainability. Diimplementasikan di berbagai lapisan platform cybersecurity untuk meningkatkan akurasi deteksi, mempercepat respons, dan mengurangi noise yang sering membebani tim security, ManageEngine mempersiapkan pertahanan Anda terhadap ancaman masa depan mulai hari ini.
Pelajari lebih lanjut tentang AI dalam keamanan siber >>Meskipun Anda taat pada regulasi global maupun standar khusus industri, mengikuti framework yang tepat sangat penting. ManageEngine membantu Anda selalu siap audit dan mematuhi persyaratan tanpa menambah kompleksitas operasional.
ManageEngine juga membantu Anda memenuhi lebih dari 15 framework global dan regional, memastikan kepatuhan di berbagai industri dan wilayah.
Jelajahi seluruh framework yang didukung >>
HealthTexas menjelaskan bagaimana ManageEngine memberikan nilai tambah pada security stack mereka

Bagaimana ManageEngine membantu ECSO 911 mengamankan wilayah selatan Oregon

Dari ransomware menuju ketahanan: Bagaimana ManageEngine mengamankan infrastruktur IT Maintainer
HCL Technologies menggunakan Log360 untuk mengatasi tantangan manajemen log pada thin client
Baca selengkapnyaWAISL Limited mengamankan operasional bandara menggunakan ManageEngine
Baca selengkapnyaHal yang perlu Anda ketahui saat mengevaluasi Cloud Access Security Broker (CASB)
Lihat sekarangChecklist keamanan data
Lihat sekarangDaftar periksa pencegahan dan respons ransomware
Lihat sekarang7 cara memperkuat keamanan akses istimewa di perusahaan Anda
Lihat sekarangDownload panduan solusi keamanan siber kami.