NIST Cybersecurity Framework (CSF) merupakan kumpulan panduan dan standar yang dapat diadopsi secara sukarela untuk mengelola risiko keamanan siber di seluruh organisasi atau infrastruktur kritikal. Framework ini menawarkan pendekatan yang fleksibel, konsisten, dan efisien dari segi biaya untuk mengelola risiko cybersecurity.
Framework ini awalnya dikembangkan sebagai sistem manajemen risiko keamanan siber pada infrastruktur kritis di Amerika Serikat. Saat ini, NIST CSF telah diadopsi secara luas oleh organisasi swasta dan publik, di seluruh departemen organisasi, dan di seluruh dunia.

Panduan ManageEngine untuk menerapkan NIST Cybersecurity Framework
Tinjau kondisi keamanan siber saat ini dan identifikasi serta prioritaskan peluang untuk meningkatkannya.
Lakukan penilaian risiko secara objektif dan susun rencana tindakan untuk memastikan risiko berada dalam tingkat toleransi risiko yang dapat diterima oleh organisasi.
Patuhi standar dan mandat global lainnya dengan mudah.
Fokus pada komponen layanan yang paling kritis sehingga proses implementasi menjadi lebih efektif dan efisien dari segi biaya.
Gunakan bahasa dan terminologi yang umum dalam framework untuk menyampaikan risiko serta kebutuhan keamanan siber kepada semua stakeholder.
Pastikan produk dan layanan dari mitra atau pihak ketiga memenuhi tujuan keamanan yang penting.
Core (inti) framework terdiri dari aktivitas-aktivitas utama manajemen risiko yang membantu organisasi mencapai hasil keamanan siber yang selaras dengan tujuan dan prioritas bisnisnya.
Core ini terdiri dari enam fungsi, yaitu Govern (Tata Kelola), Identify (Identifikasi), Protect (Perlindungan), Detect (Deteksi), Respond (Respons), dan Recover (Pemulihan). Keenam fungsi ini menawarkan strategi menyeluruh untuk memahami potensi ancaman keamanan, mengurangi dampaknya, serta memulihkan operasional dengan gangguan bisnis seminimal mungkin.
Fungsi-fungsi tersebut tidak dimaksudkan sebagai tahapan yang harus dijalankan secara berurutan untuk mencapai kondisi yang diinginkan. Sebaliknya, fungsi-fungsi ini menggambarkan serangkaian aktivitas yang dapat dilakukan secara bersamaan dan berkelanjutan guna membangun budaya organisasi yang mampu menghadapi risiko keamanan siber yang terus berkembang.
Tier (tingkat implementasi) membantu organisasi menggambarkan tingkat kecanggihan program manajemen keamanan siber yang dimilikinya. Tingkatan ini dapat digunakan sebagai tolok ukur internal untuk menstandarkan pendekatan keamanan siber di seluruh organisasi.
Perlu diperhatikan bahwa tiers ini bukan merupakan tingkat kematangan (maturity levels). Organisasi sebaiknya berupaya menuju tier yang lebih tinggi ketika memiliki sumber daya dan anggaran yang memadai untuk mengurangi risiko keamanan siber yang dihadapi.
Praktik manajemen risiko yang tidak teratur dan bersifat reaktif, dengan tingkat kesadaran yang terbatas terhadap risiko keamanan siber.
Organisasi memiliki tingkat pemahaman tertentu terhadap risiko keamanan siber, namun program manajemen risiko di tingkat organisasi masih terbatas dan belum sepenuhnya terstruktur.
Program manajemen risiko keamanan siber diterapkan secara konsisten di seluruh organisasi, didukung oleh proses yang memungkinkan respons terhadap perubahan lanskap ancaman.
Sistem respons yang maju dan proaktif, mampu meningkatkan program manajemen risiko secara efektif berdasarkan pengalaman dari insiden sebelumnya serta indikator prediktif terhadap ancaman yang mungkin terjadi.
Framework Profile membantu organisasi memahami kondisi keamanan siber saat ini berdasarkan hasil yang dijelaskan dalam framework.
Setelah melakukan penilaian terhadap profil saat ini, organisasi dapat menyusun profil target dengan memilih hasil-hasil utama yang tercantum dalam fungsi-fungsi framework sesuai dengan tujuan bisnis, tingkat toleransi risiko, dan sumber daya yang dimiliki.
Dengan membuat profil saat ini dan membandingkannya dengan profil target, organisasi dapat mengidentifikasi peluang untuk meningkatkan program keamanan sibernya. Berdasarkan tingkat prioritas dan estimasi biaya dari upaya perbaikan yang diperlukan, organisasi dapat menyusun rencana serta langkah-langkah peningkatan keamanan siber yang tepat.
NIST CSF mencakup berbagai kontrol teknis dan non-teknis untuk pengelolaan risiko keamanan siber. Dalam pembahasan ini, kami akan membantu Anda menerapkan komponen-komponen teknis dari framework tersebut.
Tata Kelola
Identifikasi
Perlindungan
Deteksi
Respons
Pemulihan
Memahami dan mengelola misi program keamanan siber, persyaratan hukum, dan ekspektasi pemangku kepentingan.
Tetapkan dan komunikasikan prioritas organisasi, toleransi risiko, dan asumsi yang berkaitan dengan manajemen risiko.
Tentukan peran, tanggung jawab, dan kewenangan keamanan siber untuk mendorong akuntabilitas dan menyederhanakan proses.
Tentukan dan komunikasikan kebijakan untuk mengelola keamanan siber organisasi.
Tinjau hasil program manajemen risiko keamanan siber dan sesuaikan strategi jika diperlukan.
Identifikasi dan tetapkan praktik manajemen risiko keamanan siber untuk mengelola risiko yang terkait dengan supply chain organisasi.
Identifikasi aset, sistem, dan personel yang krusial bagi bisnis, kemudian kelola sesuai dengan tujuan bisnis dan strategi risiko.
Temukan aset hardware dan software dalam jaringan IT melalui monitoring berkala untuk menjaga informasi aset tetap mutakhir.
Identifikasi serta kelola aset hardware dan software dalam jaringan.
Temukan data sensitif dan klasifikasikan berdasarkan tingkat sensitivitasnya.
Identifikasi dan kelola komputer, pengguna, dan grup di lingkungan AD dan Microsoft 365.
Kumpulkan data dari semua aplikasi untuk menganalisis aset di seluruh organisasi, termasuk tingkat kepatuhan patch, pengguna yang ditugaskan, serta risiko terkait, melalui dashboard terpadu.
Tentukan risiko siber bagi organisasi, aset, dan personel.
Dapatkan skor risiko untuk seluruh entitas dan pengguna di organisasi. Temukan aset dan pengguna yang paling berisiko berdasarkan baseline historis dan analisis ML. Berdasarkan ambang skor risiko ini, admin dapat mengatur alert.
Temukan, evaluasi, dan prioritaskan endpoint yang rentan dalam jaringan.
Deteksi vulnerability di lingkungan hybrid dan ambil tindakan secara langsung. Identifikasi dan analisis risiko keamanan pada infrastruktur cloud.
Pantau jaringan dengan kapabilitas deteksi insider threat.
Menghasilkan skor kepercayaan (trust score) dinamis bagi pengguna dan perangkat berdasarkan tingkat kepatuhan terhadap kebijakan keamanan. Berdasarkan skor tersebut, administrator dapat menerapkan tindakan otomatis, seperti menghentikan atau menolak akses pengguna, meminta alasan yang valid sebelum memberikan akses ke resource, serta menjalankan berbagai kontrol keamanan lainnya.
Identifikasi proses dan prosedur untuk meningkatkan program manajemen risiko keamanan siber di organisasi.
Pastikan hanya pengguna dan perangkat berwenang yang dapat mengakses aset fisik maupun logis. Kelola risiko yang terkait dengan akses tidak sah.
Identifikasi dan otorisasi akses ke sumber daya yang penting bagi bisnis serta deteksi aktivitas istimewa yang tidak biasa berdasarkan peran pengguna dan kebijakan akses yang telah ditetapkan.
Otomatisasi proses pemberian hak akses pengguna ke sumber daya berdasarkan peran pengguna dalam organisasi.
Cegah penyalahgunaan hak istimewa (privilege abuse) dengan menganalisis izin akses pengguna.
Deteksi ancaman yang menargetkan pengguna maupun perangkat. Pantau semua upaya akses yang berhasil dan gagal. Jalankan workflow respons otomatis untuk log out pengguna atau entitas yang dicurigai telah disusupi atau menunjukkan aktivitas mencurigakan.
Buat program awareness dan training untuk membantu personel Anda menjalankan tanggung jawab keamanan siber mereka dengan baik.
Kelola dan lindungi data sesuai dengan kebijakan risiko organisasi guna menjaga kerahasiaan (confidentiality), integritas (integrity), dan ketersediaan (availability) informasi.
Otomatiskan deteksi dan klasifikasi data pribadi, audit akses file, serta buat kebijakan untuk memastikan penggunaan dan transfer informasi sensitif dilakukan secara aman. Konfigurasikan kebijakan pencegahan kebocoran data (Data Loss Prevention) dan penyalinan file untuk mengamankan endpoint.
Backup dan lindungi environment IT seperti AD dan Microsoft 365.
Pantau aktivitas penting seperti pembuatan, penghapusan, akses, modifikasi, dan penggantian nama (rename) file maupun folder. Dapatkan peringatan tentang aktivitas mencurigakan melalui File Integrity Monitoring.
Kelola hardware, software, serta aktivitas pemeliharaannya untuk memastikan integritas dan ketersediaannya tetap terjaga.
Otomatisasi distribusi patch OS dan aplikasi pihak ketiga ke endpoint sesuai dengan kebijakan deployment yang telah dikonfigurasi.
Lakukan scanning berbasis agent secara berkala untuk mengidentifikasi vulnerability yang muncul, kesalahan konfigurasi jaringan, software berisiko tinggi, port aktif, dan lainnya.
Jadwalkan aktivitas pemeliharaan berkala melalui tiket atau permintaan yang dibuat secara otomatis.
Konfigurasi aturan untuk menerima peringatan tentang aktivitas yang tidak terduga di jaringan. Dapatkan peringatan berdasarkan aturan deteksi anomali yang membandingkan aktivitas aktual dengan baseline yang telah ditetapkan.
Kelola arsitektur dan infrastruktur keamanan organisasi untuk melindungi integritas aset serta meningkatkan ketahanan organisasi terhadap ancaman.
Tentukan workflow respons insiden yang secara otomatis dijalankan ketika ada alarm terpicu pada tool monitoring ITOps. Jadwalkan aktivitas pemeliharaan berkala melalui tiket yang dibuat secara otomatis.
Adopsi pendekatan Zero Trust melalui mekanisme trust scoring untuk pengguna dan perangkat, serta kontrol akses berbasis kebijakan (policy-based access control) untuk pengguna.
Konfigurasi kebijakan passcode yang ketat dan penguncian perangkat untuk melindungi aset perusahaan. Pastikan keamanan endpoint dengan monitoring proaktif dan mekanisme pertahanan otomatis.
Lindungi jaringan dari ancaman internal dan eksternal dengan kemampuan deteksi ancaman yang komprehensif.
Batasi potensi infeksi malware dengan memblokir file executable berbahaya.
Lindungi perangkat secara proaktif dari vulnerability firmware melalui pembaruan otomatis harian yang mengacu pada informasi vulnerability dari NIST.
Identifikasi dan respons serangan ransomware melalui alert berbasis threshold yang mendeteksi pola akses file mencurigakan.
Monitor aset dan sistem informasi untuk insiden serta verifikasi langkah-langkah keamanan secara berkala.
Monitor dan kumpulkan data audit secara menyeluruh dari server, firewall, aplikasi, dan endpoint serta terima peringatan insiden secara real-time.
Deteksi sertifikat yang rentan terhadap vulnerability SSL/TLS, seperti POODLE dan Heartbleed.
Deteksi rogue device di jaringan dan blokir aksesnya.
Pantau aktivitas file, transfer data, dan penggunaan aplikasi untuk mendeteksi aktivitas anomali.
Pantau aset dan sistem organisasi untuk mengenali serta menganalisis risiko yang ditimbulkan oleh identitas.
Pindai seluruh jaringan untuk mendeteksi vulnerability dan remediasi dengan penerapan patch.
Deteksi ancaman jaringan zero-day, anomali aturan firewall, dan rogue device.
Manfaatkan kemampuan Network-Based Application Recognition (NBAR) untuk mengenali dan mengklasifikasikan aplikasi secara cerdas, melakukan deep packet inspection, serta menganalisis pola traffic guna memastikan penggunaan bandwidth aplikasi dan traffic jaringan tetap terkendali.
Pantau perangkat keamanan jaringan dan dapatkan insight real-time tentang ancaman dan compliance.
Analisis anomali dan Indicators of Compromise (IoC) untuk memahami peristiwa yang berpotensi merugikan serta mengidentifikasi insiden cybersecurity.
Analisis informasi penting dari peristiwa keamanan untuk mengidentifikasi ancaman. Deteksi anomali dan dapatkan peringatan ketika anomali teridentifikasi.
Deteksi anomali dan insider threat dengan AI-driven identity analytics.
Analisis peristiwa masa lalu untuk mengidentifikasi dan memperbaiki celah dalam strategi pertahanan organisasi. Kurangi attack surface secara proaktif dengan memprediksi akun dan pengguna yang berpotensi menjadi rentan akibat kedaluwarsa kata sandi.
Kelola rencana respons insiden menangani insiden yang terdeteksi sesuai dengan strategi manajemen risiko keamanan siber organisasi.
Perbaiki ancaman dan vulnerability dengan mengotomatiskan deployment patch untuk OS dan aplikasi pihak ketiga.
Ubah atau cabut izin NTFS untuk membatasi paparan file sensitif.
Berikan teknisi akses jarak jauh yang aman ke endpoint untuk remediasi insiden secara tepat waktu. Rekam dan arsipkan sesi untuk membantu analisis forensik dan audit di masa depan.
Otomatiskan dan percepat respons terhadap ancaman melalui workflow standar dan permudah manajemen insiden melalui integrasi dengan sistem ticketing.
Dokumentasi dan otomatisasi playbook respons insiden dengan workflow manajemen insiden untuk mempercepat proses penyelesaian.
Lakukan investigasi forensik untuk memahami dampak insiden dan memastikan respons yang diberikan berjalan secara efektif.
Koordinasikan aktivitas respons dengan pemangku kepentingan internal maupun eksternal sesuai dengan ketentuan hukum, regulasi, dan kebijakan yang berlaku.
Tentukan proses yang efektif untuk meminimalkan dampak insiden dan memastikan penyelesaiannya dilakukan secara tepat waktu.
Kurangi insiden berulang dengan mendokumentasikan risiko, mengidentifikasi penyebab utama, dan mengotomatiskan solusi atau perbaikan.
Otomatisasi remediasi fault berdasarkan peringatan insiden.
Buat workflow respons otomatis yang terkait dengan insiden tertentu atau urutan kejadian. Workflow ini membantu memitigasi dampak insiden.
Lakukan dan jaga proses pemulihan untuk mengembalikan sistem dan layanan yang terdampak oleh insiden siber.
Pulihkan objek dari AD, Entra ID, Microsoft 365, Google Workspace, Exchange, dan Zoho WorkDrive.
Buat shadow copy dari semua file di endpoint dan kembalikan file yang terdampak atau terkompromi ke versi terbaru yang tersedia.
Otomatiskan tindakan pemulihan pasca-insiden, seperti menghentikan atau menjalankan proses tertentu, mengubah aturan firewall, serta melakukan perubahan pada Active Directory untuk mempercepat proses pemulihan.
Koordinasikan aktivitas pemulihan dengan stakeholder internal maupun eksternal.
Download panduan kami untuk melihat lebih dekat bagaimana organisasi Anda dapat menerapkan NIST CSF
Implementasi NIST Cybersecurity Framework secara menyeluruh memerlukan kombinasi berbagai solusi, proses, sumber daya manusia, dan teknologi. Solusi yang disebutkan di atas hanyalah beberapa contoh bagaimana tool manajemen IT dapat membantu dalam penerapan NIST Cybersecurity Framework. Jika dipadukan dengan solusi, proses, dan sumber daya manusia yang sesuai, solusi ManageEngine dapat membantu organisasi dalam memenuhi persyaratan NIST Cybersecurity Framework. Materi ini disediakan semata-mata untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai nasihat hukum terkait implementasi NIST Cybersecurity Framework. ManageEngine tidak memberikan jaminan apa pun, baik secara tegas, tersirat, maupun berdasarkan ketentuan hukum, atas informasi yang terkandung dalam materi ini.