Cloud Cost Optimization: Mengelola Pengeluaran Tanpa Mengorbankan Performa

Semakin banyak organisasi menggunakan cloud karena fleksibilitas dan skalabilitasnya. Namun, peningkatan penggunaan ini membuat organisasi semakin sulit mengendalikan biayanya. Tanpa pengelolaan yang baik, biaya cloud bisa membengkak tanpa disadari.
Hal ini bukan sekadar dugaan. IBM memperkirakan organisasi membuang sekitar 32% pengeluaran cloud mereka akibat pemborosan resource. Selain itu, laporan State of the Cloud dari Flexera menunjukkan bahwa 84% organisasi masih kesulitan mengelola biaya cloud, bahkan rata-rata anggaran cloud mereka melampaui target hingga 17%. Karena itu, cloud cost optimization menjadi semakin penting agar organisasi dapat mengurangi pemborosan dan memastikan setiap pengeluaran cloud benar-benar memberikan nilai bagi bisnis.
Apa Itu Cloud Cost Optimization?
Cloud cost optimization adalah proses melacak, menganalisis, dan memanfaatkan automasi untuk mengecek biaya cloud demi mencapai efisiensi dan transparansi biaya. Tujuannya tidak hanya untuk menurunkan pengeluaran, tetapi juga untuk menyelaraskan pengeluaran dengan tujuan bisnis. Biasanya, biaya cloud akan membengkak ketika organisasi semakin berkembang dan menggunakan lebih banyak resource cloud.
Strategi cloud cost optimization memungkinkan organisasi untuk mengoptimalkan pengeluaran cloud, mengurangi waste, dan meningkatkan ROI. Pada umumnya, strategi ini melibatkan automasi, policy-driven governance, alokasi biaya, dan predictive analytics.
Mengapa Perlu Mengoptimalkan Biaya Cloud?
Ketika organisasi menerapkan multi-cloud dan hybrid cloud, optimalisasi biaya cloud menjadi prioritas penting. Pasalnya, biaya yang dikeluarkan tidak sedikit dan organisasi ingin memastikan pengeluaran cloud sejalan dengan manfaat yang diterima.
Dengan melakukan optimasi biaya cloud, organisasi dapat:
1. Mengontrol pengeluaran yang kurang penting
Biaya cloud yang sekarang dikeluarkan organisasi mungkin tidak sebanding dengan manfaat yang diperoleh. Melalui monitoring biaya cloud, organisasi dapat menemukan resource yang tidak atau kurang maksimal digunakan. Penggunaan resource ini dapat dihentikan sehingga mengurangi pengeluaran.
2. Mengoptimalkan alokasi resource
Cloud cost management membantu organisasi mendistribusikan resource cloud sesuai kebutuhan masing-masing tim, departemen, atau proyek. Dengan begitu, tidak ada overprovisioning maupun underprovisioning. Setiap resource pun bisa dimanfaatkan secara lebih efisien.
3. Meningkatkan forecasting dan budgeting
Cloud cost optimization membantu organisasi memperkirakan dan menentukan kebutuhan biaya cloud di masa mendatang. Hal ini dilakukan melalui analitik prediktif berdasarkan pengeluaran terdahulu.
4. Meningkatkan performa tanpa overspending
Setiap organisasi tentu menginginkan performa yang optimal dengan biaya yang efisien. Cloud cost optimization memungkinkan hal ini dengan menjaga keseimbangan antara performa dan kontrol biaya demi menjaga operasional tetap lancar.
Mengapa Biaya Cloud Bisa Membengkak?
Berikut adalah beberapa penyebab biaya cloud membengkak:
Overprovisioning resource: Organisasi menyediakan resource komputasi dengan kapasitas yang jauh lebih besar daripada kebutuhan aplikasi. Akibatnya, organisasi membayar kapasitas yang sebenarnya tidak pernah digunakan.
Idle dan orphaned resources: Resource komputasi, seperti VM, tetap berjalan atau storage tetap tersimpan meskipun sudah tidak lagi digunakan. Karena resource tersebut belum dimatikan atau dihapus, penyedia cloud tetap mengenakan biaya.
Development dan staging aktif 24/7: Environment untuk development dan staging tetap berjalan sepanjang hari, padahal biasanya hanya digunakan pada jam kerja. Hal ini membuat organisasi membayar resource lebih lama daripada yang sebenarnya diperlukan.
Kurangnya visibilitas penggunaan cloud: Organisasi tidak memiliki visibilitas yang memadai terhadap penggunaan resource cloud, misalnya tidak mengetahui siapa pemilik suatu resource, apakah resource tersebut masih digunakan, atau seberapa besar utilisasinya. Akibatnya, pemborosan seperti idle resource, overprovisioning, atau storage yang terlupakan menjadi sulit dideteksi.
Data transfer yang tinggi: Biaya cloud dapat meningkat ketika organisasi sering mentransfer data keluar dari cloud atau antar-region. Semakin besar volume data yang ditransfer, semakin besar pula biaya yang dikenakan.
Tidak memanfaatkan pricing model yang tersedia: Banyak organisasi tetap menggunakan tarif on-demand untuk workload yang berjalan terus-menerus. Padahal, model pembayaran seperti Reserved Instances atau Savings Plans dapat memberikan biaya yang lebih rendah untuk penggunaan jangka panjang.
Strategi Cloud Cost Optimization
Ada berbagai cara menghemat biaya cloud yang bisa dilakukan organisasi. Ada yang mengurangi jumlah resource, mengubah cara pembayaran, atau meningkatkan efisiensi resource.
Berikut tabel perbandingan setiap strategi cloud cost optimization dan penjelasannya:
Strategi | Yang dioptimalkan | Cara kerja |
Rightsizing | Kapasitas komputasi | Mengurangi atau menambah kapasitas sesuai kebutuhan |
Auto-scaling | Penggunaan komputasi | Menambah atau mengurangi server secara otomatis sesuai traffic |
Reserved Instances/Savings Plans | Model pembayaran | Mendapat diskon dengan komitmen penggunaan |
Spot Instances | Biaya komputasi | Menggunakan kapasitas cloud yang sedang tidak terpakai dengan harga jauh lebih rendah |
Storage Tiering | Biaya penyimpanan data | Memindahkan data ke kelas storage yang sesuai dengan frekuensi aksesnya agar biayanya lebih efisien |
Optimasi Data Egress | Biaya transfer data | Mengurangi atau mengoptimalkan biaya transfer data yang keluar dari cloud |
Serverless | Penggunaan resource komputasi | Menjalankan kode hanya saat diperlukan sehingga biaya dihitung berdasarkan penggunaan aktual |
Managed Services | Operasional infrastruktur | Menggunakan layanan yang dikelola cloud provider sehingga organisasi tidak perlu mengelola server dan pemeliharaan sendiri |
1. Rightsizing
Rightsizing cloud resources adalah strategi menyesuaikan ukuran resource komputasi yang sesuai kebutuhan aplikasi.
Contoh: Suatu organisasi memiliki VM dengan spesifikasi 16 vCPU dan RAM 64 GB untuk keperluan suatu aplikasi. Setelah dimonitor, ternyata utilisasi CPU rata-rata hanya sekitar 15% dan utilisasi RAM sekitar 30%. VM yang digunakan organisasi terlalu besar, tidak sesuai dengan kebutuhan sebenarnya. Jika spesifikasinya diturunkan, aplikasi sebenarnya tetap dapat berjalan dengan baik. Demi efisiensi, VM tersebut diubah menjadi 8 vCPU dan RAM 32 GB yang lebih pas dengan kebutuhan aplikasi dan biayanya lebih murah.
2. Auto-scaling
Auto-scaling adalah strategi menyesuaikan jumlah VM sesuai kebutuhan organisasi yang berubah-ubah secara otomatis.
Contoh: Sebuah website toko online memiliki 3 VM dengan rerata pengunjung harian sebanyak 1000. Ketika terjadi lonjakan pengunjung saat Harbolnas, 3 VM tersebut tidak dapat menunjang dan membuat website lambat. Akan tetapi, kalau toko online tersebut menyediakan 20 VM sepanjang tahun, tentu tidak efisien karena kondisinya tidak selalu begitu.
Auto-scaling memungkinkan penyesuaian jumlah VM sesuai kebutuhan secara otomatis. Ketika traffic website naik, 3 VM bisa diubah menjadi 5, 8, atau 15. Sedangkan ketika traffic turun, 15 VM bisa diubah menjadi 8 atau 3. Jadi, organisasi hanya membayar VM tambahan ketika memang diperlukan.
3. Reserved Instances
Reserved Instances adalah strategi yang mengubah cara membayar resource komputasi spesifik berdasarkan durasi penggunaannya. Semakin lama resource digunakan, biayanya menjadi lebih murah.
Contoh: Suatu organisasi memiliki VM production yang digunakan selama bertahun-tahun. Jika memakai tarif biasa (on-demand), tarifnya lebih mahal. Penyedia layanan cloud biasanya memiliki tarif khusus untuk penggunaan resource dengan workload yang sama dalam jangka panjang. Misalnya tarif biasa per bulan adalah $100, dengan reserved instances manjadi $70/bulan.
4. Savings Plans
Savings Plans mirip dengan reserved instances, namun lebih fleksibel. Reserved instances biasanya mengikat diskon pada satu VM tertentu, tetapi savings plans memberikan diskon berdasarkan komitmen penggunaan layanan komputasi dalam jangka waktu tertentu, bukan pada satu VM tertentu.
Contoh: Suatu organisasi menggunakan VM A dengan 8 vCPU. Akan tetapi, keesokan harinya kebutuhan berubah sehingga organisasi menggantinya menjadi VM B dengan 16 vCPU. Meskipun spesifikasi VM berubah, organisasi tetap dapat memperoleh diskon dari Savings Plans selama penggunaan layanan komputasi masih memenuhi komitmen yang telah disepakati.
5. Spot Instances
Spot Instances adalah penyewaan kapasitas komputasi yang sedang tidak dipakai pelanggan dengan harga sangat murah. Akan tetapi, Namun, kapasitas tersebut dapat diambil kembali sewaktu-waktu ketika dibutuhkan. Itulah mengapa spot instances lebih cocok pada penggunaan jangka pendek seperti batch processing, machine learning training, atau rendering video.
Contoh: Harga normal suatu VM adalah $100/bulan. Namun, harga yang ditawarkan untuk suatu VM dengan skema spot instance adalah $20/bulan.
5. Storage Tiering
Storage tiering adalah cara mengurangi biaya cloud dengan menyimpan data pada jenis storage yang sesuai dengan seberapa sering data tersebut diakses.
Penyedia cloud biasanya menyediakan beberapa kelas storage yang memiliki perbedaan biaya dan penggunaan. Ada storage mahal untuk data yang sering diakses dan ada storage murah untuk data arsip.
Contoh: Suatu organisasi memiliki data transaksi tahun ini dan lima tahun lalu. Karena data lima tahun lalu hampir tidak pernah dibuka, organisasi tidak perlu menyimpannya di storage tercepat yang biayanya paling mahal. Data tersebut dapat dipindahkan ke kelas storage yang lebih murah.
6. Optimasi Data Egress
Optimasi data egress fokus pada biaya memindahkan data keluar dari cloud. Biasanya, penyedia layanan cloud mengenakan biaya ketika data keluar (egress).
Contoh: Sebuah layanan streaming video mengirimkan ribuan video setiap hari kepada pengguna. Karena volume data yang keluar sangat besar, biaya data egress juga meningkat. Untuk mengurangi biaya tersebut, organisasi dapat menggunakan CDN (Content Delivery Network).
7. Serverless
Serverless adalah model komputasi di mana cloud provider mengelola server sehingga organisasi tidak perlu menyediakan maupun mengelolanya sendiri. Organisasi hanya membayar ketika kode atau fungsi benar-benar dijalankan.
Contoh: Suatu aplikasi akan mengubah ukuran foto ketika ada pengguna yang mengunggah gambar. Jika menggunakan VM, server harus aktif sepanjang hari meskipun hanya sedikit foto yang diunggah. Namun jika menggunakan serverless, fungsi baru berjalan ketika ada foto yang diunggah. Setelah selesai, fungsi akan berhenti dan biayanya juga berhenti.
8. Managed Services
Managed Services berarti organisasi tetap menggunakan layanan tertentu, tetapi pengelolaan infrastrukturnya diserahkan kepada cloud provider.
Contoh: Suatu organisasi lebih memilih untuk menggunakan layanan database terkelola dari penyedia layanan cloud daripada menginstal MySQL sendiri di sebuah VM. Cara ini dapat mengurangi pekerjaan administrasi dan menghemat tenaga untuk maintenance atau pengelolaan infrastruktur.
Best Practice Mengoptimalkan Biaya Cloud
Memahami strategi mengoptimalkan biaya cloud belum cukup. Organisasi juga perlu mengetahui cara memaksimalkan penerapan strategi tersebut. Berikut adalah cloud cost optimization best practices yang bisa diterapkan organisasi:
1. Memahami perbedaan pengurangan biaya dan peningkatan efisiensi
Terkadang, organisasi belum bisa menentukan tujuan inti dari cloud cost optimization. Tujuan ini sebenarnya bisa berupa pengurangan biaya atau peningkatan efisiensi.
Pengurangan biaya berarti menghapus semua pengeluaran yang tidak memberi manfaat. Misalnya lisensi tool yang tidak digunakan atau compute instance yang idle. Pengeluaran ini bisa muncul karena organisasi tidak memiliki visibilitas yang baik terhadap cloud, sehingga ada bagian yang tidak diperhatikan.
Sementara itu, peningkatan efisiensi memiliki sudut pandang yang berbeda. Ketika ingin meningkatkan efisiensi, organisasi tidak mesti harus menurunkan pengeluaran. Yang terpenting adalah meningkatkan ROI. Hal ini biasa dilakukan dengan melakukan instance sizing yang lebih baik, melakukan pembelian hanya untuk resource penting yang digunakan, dan membuat arsitektur cloud lebih efisien.
2. Memahami visibilitas cloud sebelum memulai optimasi
Tanpa visibilitas, organisasi tidak akan tahu apa yang perlu dilakukan terkait cloud optimization. Ini karena organisasi tidak tahu siapa yang menggunakan resource, aplikasi apa yang ada, dan proyek apa yang sedang dijalankan.
Jika informasi tersebut tidak diketahui, optimasi biaya cloud jadi tidak memiliki target dan bisa saja dilakukan di area yang salah. Sebagai contoh, organisasi menghapus resource yang ternyata masih digunakan dan melakukan penghematan pada tim atau environment yang salah.
Salah satu cara untuk mendapatkan visibilitas cloud adalah menerapkan cloud tagging. Tag ini merupakan label yang ditempelkan pada setiap resource cloud dan berfungsi untuk mengelompokkan setiap resource berdasarkan kebutuhan bisnis. Misalnya, resource database diberi tag application = ERP untuk mengetahui sumber biaya cloud.
3. Menerapkan strategi optimalisasi dengan urutan yang tepat
Strategi cloud cost optimization sebenarnya memiliki urutan tertentu yang jika dilakukan dapat membuat seluruh proses lebih optimal. Berikut urutannya:
Berhenti membayar resource yang tidak digunakan
Bayar lebih murah untuk resource yang masih digunakan. Hal ini bisa dilakukan dengan memilih skema harga yang tepat dari penyedia layanan cloud.
Melakukan rightsizing untuk memastikan ukuran resource sesuai dengan kebutuhan nyata di organisasi.
Mengubah pendekatan arsitektur aplikasi cloud dengan autoscaling, serverless, atau managed service.
Mengapa urutan ini penting? Sebab, setiap tahap merupakan dasar bagi tahap berikutnya. Jika tidak urut, ada kemungkinan organisasi mengalami kerugian. Misalnya, organisasi membeli komitmen jangka panjang untuk resource yang sebenarnya tidak diperlukan.
4. Melacak metrik yang tepat, bukan hanya berapa banyak penghematan
Keberhasilan cloud cost optimization sebaiknya tidak boleh hanya diukur dari berapa banyak pengeluaran yang berhasil dihemat. Hal yang lebih penting adalah apakah organisasi semakin efisien dalam menggunakan cloud dari waktu ke waktu. Metrik-metrik yang perlu diukur organisasi yaitu:
Unit cost trend: Biaya cloud dibandingkan dengan nilai bisnis yang dihasilkan. Contohnya biaya cloud per pelanggan, biaya cloud per transaksi, atau biaya cloud per API request.
Commitment coverage rate: Seberapa besar resource yang memenuhi syarat sudah menggunakan model harga yang lebih murah. Contohnya server yang selalu aktif menggunakan tarif on-demand, padahal bisa menggunakan pilihan yang lebih murah seperti reserved instances atau savings plan.
Waste ratio: Persentase biaya cloud yang sebenarnya merupakan pemborosan. Contohnya jika total biaya cloud Rp1 miliar dan pemborosan Rp120 juta, berarti waste ratio adalah 12%. Target organisasi adalah mengurangi waste ratio.
Cost/load curve: Hubungan antara biaya dan workload. Misalnya ketika traffic naik 30% sementara biaya cloud naik 90%, itu tandanya ada sesuatu yang tidak efisien.
Innovation/cost ratio: Dampak efisiensi terhadap inovasi. Tujuannya untuk memastikan bahwa hasil penghematan benar-benar dimanfaatkan untuk mendukung inovasi, bukan sekadar mengurangi anggaran.
5. Memanfaatkan AI untuk mengelola biaya cloud
Kini, spreadsheet manual sudah tidak diperlukan lagi untuk mengelola biaya cloud. Keberadaan AI dalam cloud cost management tool membuat cara manual menjadi tidak relevan lagi.
AI dalam platform cloud cost dapat secara otomatis mendeteksi anomali, memperkirakan pengeluaran cloud di masa mendatang, dan menemukan area pemborosan yang dapat dipangkas. Semua aktivitas ini dapat dilakukan bahkan sebelum tim mengetahuinya.
Selain itu, adanya predictive AI juga memungkinkan organisasi melakukan simulasi biaya cloud sebelum membeli resource baru atau meningkatkan skala. Simulasi ini membuat keputusan dapat diambil lebih cepat dan meningkatkan cloud governance.
6. Menggunakan cloud cost management tool
Pada beberapa organisasi, pengeluaran cloud tersebar di berbagai departemen dengan peruntukan masing-masing. Informasi ini tidak bisa dilihat secara terpusat, sehingga sulit melacak berapa biaya cloud yang dikeluarkan setiap tim. Akibatnya, tidak ada transparansi akan biaya cloud dan alokasi anggaran atau optimalisasi biaya pun menjadi lebih sulit.
Solusi terbaik untuk mengatasi hal ini adalah mengadopsi cloud cost management tool yang menyajikan dashboard terpusat untuk semua pengeluaran cloud. Tool ini akan menguraikan biaya berdasarkan departemen, proyek, dan individu.
Selain memiliki dashboard terpusat, tool manajemen biaya cloud juga biasanya memiliki fitur analitik yang dilengkapi AI untuk memberi insight cara mengoptimalkan biaya cloud terbaik dan melakukan strategi optimalisasi secara otomatis. Supaya pelaksanaannya tidak salah, platform cloud cost juga memiliki fitur cost governance yang memandu aktivitas manajemen biaya cloud dalam peraturan dan batasan yang diterapkan organisasi.
Pendekatan FinOps dalam Cloud Cost Optimization

FinOps (Cloud Financial Operations) adalah pendekatan yang menggabungkan aspek teknologi, keuangan, dan bisnis untuk membantu organisasi mengelola biaya cloud secara lebih efektif. Melalui FinOps, tim IT, operasional, dan finance dapat bekerja sama dalam memantau penggunaan cloud, memahami sumber pengeluaran, serta mengambil keputusan yang menyeimbangkan biaya, performa, dan kebutuhan bisnis. Jadi, optimasi biaya cloud dengan FinOps tidak hanya menekan biaya.
FinOps dalam cloud cost management berjalan dalam siklus yang terus berulang, terdiri dari tiga fase. Setelah fase terakhir selesai, organisasi akan kembali ke fase pertama.
Inform: Fase ini menjawab apa yang sedang terjadi di cloud. Fokusnya adalah visibilitas. Pada fase ini, organisasi dapat mengetahui siapa yang menggunakan cloud, berapa biaya tiap tim, aplikasi mana yang paling mahal, dan resource mana yang menganggur. Lewat informasi tersebut, organisasi bisa tahu apa yang harus diperbaiki.
Optimize: Fase ini menjawab pertanyaan tentang apa yang bisa diperbaiki di cloud. Strategi optimasi beragam, seperti rightsizing, auto-scaling, atau reserved instances.
Operate: Fase ini menjawab pertanyaan tentang bagaimana memastikan optimasi terus berjalan. Di fase ini, organisasi mengukur hasil, mengevaluasi kebijakan, menggunakan automasi, dan terus melakukan perbaikan. Lewat fase ini, harapannya pemborosan tidak terus berulang.
Optimalkan Biaya Cloud dengan ManageEngine CloudSpend
Ketika organisasi menggunakan ratusan bahkan ribuan resource di berbagai akun dan penyedia cloud, melakukan monitoring dan optimasi secara manual menjadi semakin sulit. Di sinilah cloud cost management platform seperti ManageEngine CloudSpend dapat membantu.
CloudSpend menyediakan berbagai fitur yang membantu organisasi mendapatkan visibilitas terhadap penggunaan cloud, mengidentifikasi pemborosan, serta mengotomatisasi upaya optimasi biaya.
Cloud cost visibility dan analytics

CloudSpend membantu organisasi memahami ke mana anggaran cloud digunakan melalui dashboard yang menampilkan biaya secara real time. Beberapa kapabilitasnya seperti:
Pemantauan pengeluaran cloud secara real time di berbagai akun dan layanan.
Perincian biaya berdasarkan tim, proyek, aplikasi, atau unit bisnis.
Analisis tren penggunaan cloud dan deteksi lonjakan biaya yang tidak wajar.
Laporan untuk membantu proses budgeting, forecasting, dan compliance.
Selain itu, CloudSpend juga menyediakan fitur Unit Economics yang menghubungkan biaya cloud dengan metrik bisnis, sehingga organisasi dapat memahami biaya per pelanggan, transaksi, atau layanan yang diberikan.
Automasi cloud cost optimization

Selain memberikan visibilitas, CloudSpend juga membantu organisasi melakukan optimasi biaya secara lebih efisien.
Beberapa fitur yang tersedia antara lain:
Rekomendasi rightsizing berdasarkan pola penggunaan resource.
Penjadwalan otomatis untuk mematikan resource yang tidak digunakan di luar jam operasional.
Optimasi Reserved Instances dan Spot Instances.
Otomatisasi kebijakan (policy-based automation) untuk mengurangi pemborosan biaya.
CloudSpend juga menghadirkan AI-powered insights melalui Zia AI untuk membantu menemukan peluang penghematan biaya serta memberikan rekomendasi optimasi yang lebih cepat.
Cloud cost governance di lingkungan multi-cloud

Mengelola biaya cloud menjadi lebih kompleks ketika organisasi menggunakan beberapa cloud provider sekaligus. CloudSpend membantu menyederhanakan proses tersebut melalui berbagai fitur governance, seperti:
Konsolidasi tagihan dari berbagai cloud provider dalam satu dashboard.
Penerapan kebijakan penggunaan cloud dan batas anggaran.
Monitoring kepatuhan terhadap standar internal maupun regulasi.
Tagging compliance untuk memastikan setiap resource memiliki informasi kepemilikan yang jelas sehingga biaya dapat dialokasikan secara akurat.
Jika Anda ingin mengenal lebih dalam tentang bagaimana ManageEngine CloudSpend mengelola biaya cloud secara efektif, download whitepaper berikut atau jadwalkan demo dengan tim kami!