Apa Itu Latency? Penyebab, Dampak & Cara Menguranginya di Jaringan Enterprise

Saat mengakses aplikasi, membuka website, atau melakukan video conference, seberapa cepat jaringan merespons sangat memengaruhi pengalaman pengguna. Salah satu faktor yang menentukan kecepatan respons tersebut adalah latency.
Latency menunjukkan waktu yang dibutuhkan data untuk berpindah dari satu perangkat ke perangkat lainnya melalui jaringan. Bagi perusahaan dengan infrastruktur IT yang kompleks, menjaga latency tetap rendah bukan sekadar soal koneksi yang cepat. Tim IT perlu memahami apa yang menyebabkan latency tinggi, bagaimana mengukurnya, dan bagaimana memantau performa jaringan secara berkelanjutan.
Apa itu latency?
Latency adalah waktu yang dibutuhkan data untuk berpindah dari satu perangkat jaringan ke perangkat lainnya. Dalam jaringan enterprise, latency menunjukkan seberapa cepat komunikasi dapat terjadi antara user, perangkat jaringan, server, dan aplikasi.
Latency biasanya diukur dalam milidetik (ms). Semakin tinggi latency, semakin besar delay yang dapat dirasakan pengguna saat mengakses aplikasi atau layanan jaringan. Delay inilah yang dikenal pengguna sebagai lag.
Latency yang tinggi dapat membuat aplikasi terasa lambat, mengganggu komunikasi real-time seperti VoIP dan video conferencing, serta memperlambat akses ke server atau aplikasi berbasis cloud. Karena itu, menjaga latency tetap rendah menjadi bagian penting dalam mempertahankan performa dan reliability jaringan enterprise.
Latency vs jitter vs packet loss: Apa bedanya?
Latency merupakan salah satu metrik penting dalam monitoring performa jaringan enterprise. Selain latency, ada metrik lain seperti jitter dan packet loss yang juga tak kalah penting. Kedua metrik ini sering dikaitkan bahkan disamakan dengan latency, padahal memiliki beberapa perbedaan.
Latency
Latency mengukur seberapa lama data packet berpindah dari perangkat sumber ke perangkat tujuan. Latency biasa diukur dalam satuan milidetik (ms). Semakin tinggi latency, maka semakin lama pula perangkat atau aplikasi harus menunggu respons.
Sebagai acuan umum, latency di bawah 125 ms sering digunakan sebagai target untuk menjaga komunikasi jaringan tetap responsif. Namun, kebutuhan latency dapat berbeda tergantung jenis aplikasi dan lingkungan jaringan.
Jitter
Jitter adalah variasi atau ketidakkonsistenan waktu kedatangan packet. Jitter menunjukkan seberapa banyak nilai latency berubah dari satu packet ke packet berikutnya.
Misalnya, sebuah packet pertama tiba dalam 20 ms, packet berikutnya dalam 25 ms, kemudian packet berikutnya membutuhkan 70 ms. Perubahan waktu tersebut menunjukkan adanya jitter.
Jitter sangat penting untuk aplikasi real-time seperti VoIP dan video conferencing. itter yang tinggi dapat menyebabkan suara terputus-putus, audio terdengar tidak jelas, atau video mengalami gangguan.
Sebagai acuan, jitter sekitar 20–25 ms atau lebih rendah umumnya dianggap lebih ideal untuk komunikasi real-time. Namun, batas yang dapat diterima tetap bergantung pada aplikasi dan kualitas layanan yang dibutuhkan.
Packet loss
Packet loss terjadi ketika data packet gagal mencapai perangkat tujuan selama proses transmisi. Packet loss biasanya dinyatakan sebagai persentase packet yang hilang dibandingkan dengan total packet yang dikirim.
Packet loss bisa menyebabkan suara terputus, video mengalami freeze, atau komunikasi menjadi tidak stabil pada VoIP dan video conferencing.
Packet loss di bawah 1% umumnya lebih ideal untuk menjaga kualitas komunikasi jaringan. Namun, angka toleransi sebenarnya dapat berbeda berdasarkan jenis aplikasi dan protokol yang digunakan.
Dalam bentuk tabel, berikut adalah perbedaan latency, jitter, dan packet loss.
Metrik | Pengertian | Apa yang diukur? | Dampak jika tinggi |
Latency | Waktu yang dibutuhkan data packet untuk berpindah dari sumber ke tujuan. | Delay atau waktu tempuh data, biasanya dalam milidetik (ms). | Aplikasi terasa lambat, respons tertunda, dan komunikasi mengalami delay. |
Jitter | Variasi atau ketidakkonsistenan waktu kedatangan packet. | Perubahan latency dari satu packet ke packet berikutnya. | VoIP dan video conferencing dapat mengalami suara terputus, audio tidak jelas, atau video tidak stabil. |
Packet loss | Kondisi ketika data packet gagal mencapai perangkat tujuan. | Persentase packet yang hilang selama transmisi. | Komunikasi terganggu, data perlu dikirim ulang, dan aplikasi real-time dapat mengalami gangguan. |
Apa penyebab latency tinggi pada jaringan enterprise?
Ada enam hal yang dapat menyebabkan latensi tinggi, yaitu:
Network congestion
Sama seperti jalan raya, jaringan juga bisa mengalami kemacetan. Ketika terlalu banyak user atau aplikasi menggunakan bandwidth yang terbatas, packet harus menunggu dalam antrean (queue) sebelum dapat dikirim.
Hal ini terjadi ketika jam kerja sedang sibuk, banyak orang melakukan video conference, ada transfer file berukuran besar, atau banyak aplikasi menggunakan bandwidth secara bersamaan.
Ketika congestion semakin parah, packet juga bisa dropped, sehingga perlu dikirim ulang. Akibatnya, latency dan jitter dapat meningkat.
Hardware fault atau perangkat overload
Latency juga bisa berasal dari gangguan (fault) pada hardware atau perangkat yang terlalu sibuk. Contohnya seperti kabel jaringan rusak, port bermasalah, atau firewall kehabisan resource.
Fault hardware dan perangkat overload membuat perangkat kesulitan memproses packet, sehingga menyebabkan packet mengalami processing delay. Lalu, jika delay ini terjadi di beberapa perangkat sepanjang network patch, delay tersebut bisa terakumulasi.
Selain itu, kerusakan hardware dapat menyebabkan packet retransmission, sehingga data harus dikirim kembali dan menambah waktu komunikasi.
Jarak fisik perangkat yang terlalu jauh
Data membutuhkan waktu untuk berpindah secara fisik dari satu lokasi ke lokasi lain. Misalnya, user berada di Indonesia, tetapi server aplikasi berada di India. Data harus melewati banyak perangkat jaringan (network hops) sebelum sampai ke server, kemudan responsnya harus kembali ke user.
Semakin jauh jaraknya, semakin besar waktu yang dibutuhkan untuk perjalanan data. Waktu balik-balik perjalanan data ini disebut dengan Round-Trip Time (RTT).
Data center overload
Misalnya sebuah perusahaan menjalankan campaign besar atau sedang menghadapi periode traffic tinggi, jumlah request ke aplikasi akan meningkat drastis. Jika resource data center tidak cukup untuk menangani lonjakan tersebut, maka traffic meningkat, resource tersaturasi, dan processing time meningkat. Waktu respons pun lebih lambat dan user akan merasakan latency.
Tidak menggunakan Content Delivery Network (CDN)
CDN (Content Delivery Network) adalah jaringan server yang ditempatkan di berbagai lokasi geografis untuk menyimpan dan mengirimkan konten website/aplikasi dari server yang paling dekat dengan pengguna.
Dengan CDN, jika user berada di Indonesia sementara server berada di India, konten seperti gambar, video, CSS, ataupun Javascript dapat di-cache di server yang lebih dekat, misalnya CDN di Singapura. Hasilnya, latency dan waktu loading konten bisa berkurang.
Routing atau konfigurasi jaringan tidak optimal
Ada beberapa kemungkinan penyebab latensi tinggi akibat routing atau konfigurasi jaringan yang tidak optimal, yaitu:
Routing/peering tidak efisien: Data seharusnya bisa mengambil jalur yang relatif pendek, tetapi karena konfigurasi routing atau hubungan antar-ISP (peering) tidak optimal, packet malah mengambil jalur yang lebih panjang.
MTU mismatch: MTU (Maximum Transmission Unit) menentukan ukuran maksimum packet yang dapat ditransmisikan melalui suatu interface. Kalau perangkat dalam jalur memiliki MTU yang tidak sesuai, packet dapat mengalami fragmentation atau masalah transmisi tertentu. Dalam kondisi tertentu, hal ini dapat meningkatkan overhead dan menyebabkan retransmission.
Duplex mismatch: Duplex menentukan bagaimana perangkat mengirim dan menerima data. Jika satu perangkat menggunakan full-duplex, sementara perangkat di sisi lain menggunakan half-duplex, dapat terjadi collision dan performa jaringan turun drastis.
Konfigurasi outdated: Perangkat jaringan dengan firmware lama, konfigurasi yang tidak konsisten, atau konfigurasi yang salah juga dapat menyebabkan performa jaringan tidak optimal.
Apa dampak latency tinggi pada jaringan enterprise?
Latency yang tinggi menunjukkan adanya delay dalam komunikasi data antara perangkat sumber dan tujuan. Dalam lingkungan enterprise, kondisi ini dapat memengaruhi performa aplikasi, produktivitas pengguna, hingga kelancaran operasional bisnis.
Aplikasi dan layanan menjadi lambat
Latency tinggi membuat waktu respons aplikasi meningkat. Pengguna dapat mengalami keterlambatan saat mengakses server, aplikasi berbasis web, atau layanan cloud, terutama pada aplikasi yang membutuhkan komunikasi data secara terus-menerus.
Komunikasi real-time terganggu
Aplikasi seperti VoIP dan video conferencing sangat sensitif terhadap latency, jitter, dan packet loss. Latency yang tinggi dapat menyebabkan delay dalam percakapan, sementara kombinasi dengan jitter atau packet loss dapat membuat suara terputus atau kualitas video menurun.
Produktivitas pengguna menurun
Ketika aplikasi dan layanan yang digunakan sehari-hari merespons lebih lambat, pengguna membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan pekerjaan. Jika terjadi secara konsisten, latency dapat menghambat produktivitas tim dan meningkatkan waktu penyelesaian tugas.
Operasional bisnis terhambat
Aplikasi yang mendukung proses bisnis, seperti sistem transaksi, database, ERP, atau aplikasi internal, membutuhkan komunikasi jaringan yang responsif. Latency yang tinggi dapat memperlambat proses dan berpotensi mengganggu operasional, terutama ketika aplikasi tersebut digunakan secara real-time.
User experience terganggu
Dari sisi pengguna, latency tinggi dapat terasa sebagai aplikasi yang lambat atau tidak responsif. Pengalaman ini dapat memengaruhi kepuasan karyawan maupun pelanggan yang mengakses layanan digital perusahaan.
Karena itu, latency perlu dipantau bersama metrik lain seperti jitter, packet loss, bandwidth utilization, dan device performance untuk memastikan masalah jaringan dapat dideteksi dan ditangani sebelum berdampak lebih luas pada operasional enterprise.
Bagaimana cara melakukan troubleshoot latency pada jaringan?
Untuk mengetahui apakah jaringan mengalami latency tinggi sekaligus mengidentifikasi sumber masalahnya, tim IT dapat melakukan troubleshooting jaringan melalui beberapa langkah berikut:
1. Melakukan pemeriksaan dasar
Pemeriksaan dasar meliputi pengecekan perangkat user dan kondisi jaringan di sekitarnya. Misalnya, apakah koneksi Wi-FI-nya kuat, apakah ada proses download atau update yang berjalan di latar belakang, atau apakah kabelnya sudah terpasang dengan baik.
Lalu, tim IT juga dapat melakukan restart pada modem dan router serta memeriksa koneksi fisik antara switch dan perangkat untuk memastikan tidak ada masalah pada konektivitas dasar.
2. Mengukur latency dan packet loss dengan ping dan traceroute
Untuk mendapatkan gambaran awal mengenai kondisi jaringan, tim IT dapat menggunakan ping dan traceroute.
Ping dilakukan untuk mengukur Round-Trip Time (RTT), melihat adanya packet loss, dan memastikan apakah memang ada masalah pada komunikasi antara perangkat sumber dan perangkat tujuan.
Sementara itu, traceroute menunjukkan network hops yang dilalui packet untuk mencapai tujuan. Hasilnya dapat membantu tim IT melihat di mana delay mulai terjadi dan mempersempit kemungkinan sumber masalah, baik pada jaringan internal, ISP, maupun jaringan tujuan.
3. Menganalisis network path secara detail
Traceroute dapat menunjukkan hops yang dilewati packet, tetapi informasi yang diberikan masih terbatas. Untuk mendapatkan visibilitas yang lebih mendalam, tim IT dapat menggunakan tool Network Path Analysis.
Tool ini memvisualisasikan keseluruhan jalur jaringan sekaligus menampilkan metrik performa, seperti latency dan packet loss, pada setiap hop dan link. Dengan begitu, tim IT dapat lebih mudah mengidentifikasi perangkat atau link yang mengalami degradasi performa, misalnya router yang mengalami congestion di titik peering ISP.
4. Mengorelasikan metrik performa
Latency sebaiknya tidak dianalisis sebagai metrik yang berdiri sendiri. Tim IT perlu mengorelasikannya dengan metrik lain, seperti throughput, response time, packet loss, serta penggunaan CPU dan memory perangkat.
Misalnya, jika peningkatan latency terjadi bersamaan dengan penggunaan CPU yang tinggi pada router tertentu, perangkat tersebut kemungkinan mengalami overload. Sebaliknya, jika latency tinggi sementara kondisi perangkat tetap normal, masalah mungkin berasal dari network congestion atau network path yang tidak optimal.
5. Mengecek kesehatan dan kondisi perangkat
Setelah menemukan perangkat atau jalur yang dicurigai, periksa kondisi dan konfigurasi perangkat jaringan seperti router, switch, dan firewall. Beberapa hal yang perlu diperiksa misalnya performa perangkat, konfigurasi, serta QoS. Pastikan performa tetap optimal, periksa kemungkinan masalah seperti duplex mismatch, dan pastikan kebijakan Quality of Service memprioritaskan traffic yang sensitif terhadap latency, seperti VoIP dan video conferencing.
6. Memantau tren bandwidth dan traffic
Terakhir, identifikasi aktivitas yang menggunakan bandwidth paling besar. Tim IT dapat menggunakan flow analysis untuk mengetahui user, aplikasi, atau percakapan (conversation) yang menjadi top talkers di jaringan.
Pantau juga lonjakan traffic yang mungkin disebabkan oleh transfer file berukuran besar, backup, atau bahkan aktivitas keamanan yang tidak biasa dan menyebabkan congestion.
Bagaimana cara mengurangi latency pada jaringan enterprise?
Setelah sumber latency ditemukan, langkah berikutnya adalah melakukan tindakan perbaikan berdasarkan akar masalahnya.
1. Mengatasi network congestion
Jika latency disebabkan oleh terlalu banyak traffic, optimalkan penggunaan bandwidth dengan mengidentifikasi aplikasi atau user yang menggunakan bandwidth paling besar, membatasi traffic yang tidak kritis, menjadwalkan transfer data berukuran besar di luar jam sibuk, serta menerapkan Quality of Service.
2. Mengoptimalkan network routing
Routing yang tidak optimal dapat membuat packet menempuh jalur yang lebih panjang dari seharusnya.
Tim IT dapat mengevaluasi network path dan routing configuration untuk mengurangi unnecessary hops dan memastikan traffic melewati jalur yang lebih efisien.
Jika masalah berasal dari ISP atau peering, tim IT juga dapat berkoordinasi dengan provider untuk mengevaluasi jalur koneksi.
3. Meningkatkan kapasitas atau performa perangkat
Jika router, switch, firewall, atau interface mengalami overload, pertimbangkan untuk mengoptimalkan konfigurasi perangkat, mengurangi beban pada perangkat, meningkatkan kapasitas interface, dan meng-upgrade perangkat.
4. Memperbaiki masalah konfigurasi
Konfigurasi yang tidak sesuai dapat menyebabkan performa jaringan menurun. Pastikan pengaturan seperti MTU, duplex, routing, dan QoS sudah sesuai di seluruh perangkat yang terlibat.
Firmware perangkat juga perlu diperbarui sesuai rekomendasi vendor untuk menghindari masalah yang disebabkan oleh bug atau konfigurasi yang sudah tidak kompatibel.
5. Mengoptimalkan koneksi cloud dan jarak server
Untuk aplikasi berbasis cloud, latency dapat dipengaruhi oleh jarak antara user dan lokasi resource.
Jika memungkinkan, gunakan cloud region atau server yang lebih dekat dengan pengguna dan evaluasi konektivitas antara jaringan on-premises dan cloud.
Untuk website dan aplikasi yang mendistribusikan konten ke banyak wilayah, Content Delivery Network (CDN) juga dapat membantu mengurangi latency dengan menyimpan konten pada edge server yang lebih dekat dengan pengguna.
6. Memprioritaskan traffic yang sensitif terhadap latency
Tidak semua traffic membutuhkan tingkat latency yang sama. Gunakan QoS untuk memberikan prioritas kepada aplikasi yang sensitif terhadap delay, seperti VoIP, video conferencing, remote desktop, aplikasi transaksi, dan aplikasi bisnis yang bersifat kritis.
Dengan memberikan prioritas pada traffic yang tepat, aplikasi penting tetap dapat berjalan dengan baik meskipun jaringan sedang mengalami peningkatan penggunaan.
7. Memantau latency secara berkelanjutan
Kondisi jaringan sering berubah. Itulah mengapa, tim IT perlu melakukan network performance monitoring secara berkelanjutan untuk memantau latency, jitter, packet loss, bandwidth, dan metrik performa jaringan lainnya.
Monitoring performa jaringan membantu mendeteksi perubahan performa lebih awal, membandingkannya dengan baseline, dan mengambil tindakan sebelum masalah latency berdampak jauh pada pengguna dan operasional bisnis.
ManageEngine OpManager untuk Mengurangi Network Latency
Troubleshooting latency dapat menjadi tantangan jika dilakukan secara manual, apalagi jika tim IT bekerja di jaringan enterprise yang harus memantau banyak perangkat, link, dan lokasi.
ManageEngine OpManager menyediakan platform terpusat untuk memantau jaringan, mengukur latency, dan membantu tim IT mengidentifikasi sumber masalah dengan lebih cepat.
Kapabilitas utama OpManager meliputi:
1. Network performance monitoring

OpManager memberikan visibilitas terhadap berbagai metrik dalam satu platform, termasuk monitoring latency, packet loss, bandwidth utilization, CPU dan memory perangkat, serta interface error dan discard.
Semua metrik dapat dilihat dari satu platform, sehingga tim IT bisa mengetahui kondisi jaringan secara lebih menyeluruh tanpa harus berpindah-pindah antar dashboard.
2. Ping dan traceroute dari satu platform
OpManager menyediakan Ping dan Traceroute yang dapat dijalankan langsung dari halaman perangkat. Tim IT dapat melakukan pengecekan konektivitas, mengukur RTT, melihat packet loss, dan menganalisis network hops tanpa perlu berpindah ke command-line tool atau konsol lain.
OpManager juga menyediakan Zia Chatbot, yang memungkinkan tim IT menjalankan pemeriksaan tertentu melalui chat menggunakan perintah yang tersedia.
3. Analisis network path secara hop-by-hop

Ketika hasil traceroute menunjukkan adanya masalah, tim IT dapat menggunakan Network Path Analysis untuk mendapatkan gambaran yang lebih detail mengenai jalur traffic.
Fitur ini memvisualisasikan network path dari sumber ke tujuan sekaligus menampilkan performa pada setiap hop. Dengan begitu, tim IT dapat lebih cepat mengidentifikasi link atau perangkat yang menjadi sumber latency atau degradasi performa.
4. Korelasi metrik untuk menemukan root cause
Latency sering kali berkaitan dengan metrik jaringan lainnya. Root Cause Analysis (RCA) di OpManager membantu mengorelasikan metrik seperti latency, throughput, packet loss, CPU, memory, dan interface performance dalam satu tampilan.
Misalnya, ketika latency meningkat bersamaan dengan CPU utilization yang tinggi pada perangkat tertentu, tim IT dapat lebih mudah mengidentifikasi perangkat tersebut sebagai kemungkinan bottleneck.
5. Monitoring performa WAN

Untuk lingkungan enterprise dengan banyak lokasi, latency pada koneksi WAN menjadi salah satu aspek yang perlu dipantau secara konsisten.
OpManager memanfaatkan Cisco IP SLA untuk memantau ketersediaan WAN, RTT, dan performa koneksi antar-site. Informasi ini membantu tim IT mengidentifikasi bottleneck atau penurunan performa pada koneksi WAN.
6. Analisis bandwidth & traffic

Jika latency disebabkan oleh congestion, tim IT perlu mengetahui traffic apa yang menggunakan bandwidth paling besar.
Dengan NetFlow add-on, OpManager menyediakan analisis traffic untuk membantu mengidentifikasi bandwidth hogs, aplikasi yang menggunakan bandwidth secara signifikan, dan potensi congestion.
Kesimpulan
Latency yang tinggi dapat memengaruhi performa aplikasi, komunikasi real-time, dan produktivitas pengguna. Dengan memahami penyebabnya serta memantau latency, jitter, packet loss, dan metrik jaringan lainnya, tim IT dapat mendeteksi masalah lebih cepat dan mengambil tindakan yang tepat.
Dengan ManageEngine OpManager, tim IT dapat memperoleh visibilitas menyeluruh terhadap performa jaringan, mengukur latency, menganalisis network path, dan mengidentifikasi akar masalah dari satu platform. Hal ini membantu mempercepat troubleshooting dan menjaga performa jaringan enterprise tetap optimal.
Pantau performa jaringan secara proaktif dengan ManageEngine OpManager. Mulai free trial atau jadwalkan demo dengan tim kami!