5 Teknologi yang Akan Mengubah Cara Kerja ITOps di 2026

Memasuki tahun 2026, peran IT operations tidak lagi sebatas menjaga sistem tetap berjalan. Infrastruktur semakin terdistribusi, lingkungan hybrid menjadi standar, dan ekspektasi bisnis terhadap ketersediaan layanan terus meningkat. Di tengah kompleksitas ini, organisasi tidak cukup hanya menambah tools. Mereka membutuhkan pendekatan operasional yang lebih cerdas, terintegrasi, dan mampu memberikan visibilitas end-to-end.

Berikut lima teknologi yang diprediksi akan mendefinisikan ulang cara tim IT mengelola operasional di tahun ini.

1. Infrastruktur berbasis AI (AI-Native Infrastructure)

AI-native infrastructure mengintegrasikan kecerdasan buatan langsung ke dalam lapisan operasional sehingga sistem dapat belajar dari telemetry historis maupun real-time. Pendekatan ini membantu tim IT beralih dari monitoring berbasis threshold statis ke analisis yang lebih kontekstual dan adaptif.

Melalui kemampuan mendeteksi pola serta anomali lebih awal, organisasi dapat mengurangi alert fatigue sekaligus memprioritaskan insiden berdasarkan dampak bisnis. Ini memungkinkan tim fokus pada masalah yang benar-benar kritis, bukan sekadar merespons notifikasi. Seiring waktu, AI-native infrastructure juga membuka jalan menuju predictive operations di mana potensi gangguan dapat diantisipasi sebelum memengaruhi user maupun layanan.

Berikut keuntungan utamanya: 

  • Mengurangi Mean Time to Resolution (MTTR) melalui prioritisasi insiden berbasis dampak.

  • Membantu tim IT bergerak dari pendekatan reaktif ke proaktif.

  • Meningkatkan efisiensi operasional tanpa harus menambah beban kerja secara linear.

2. Arsitektur event driven dan streaming

Arsitektur event-driven memperlakukan data operasional sebagai aliran kontinu, bukan laporan yang dianalisis setelah insiden terjadi. Setiap aktivitas mulai dari transaksi hingga perubahan performa menjadi sinyal real-time yang dapat langsung diproses. 

Approach ini memberikan visibilitas yang lebih cepat terhadap kesehatan layanan dan membantu tim IT merespons sebelum gangguan meluas. Dalam ekosistem digital yang menuntut respons instan, kemampuan ini berperan penting dalam menjaga pengalaman pengguna tetap konsisten. Lebih dari itu, streaming membantu organisasi memahami keterkaitan antar peristiwa, sehingga analisis akar masalah dapat dilakukan dengan lebih presisi.

Berikut keuntungan utamanya: 

  • Visibilitas real-time terhadap performa layanan dan infrastruktur.

  • Respons insiden yang lebih cepat sebelum berdampak ke user.

  • Analisis root cause yang lebih akurat berkat korelasi antar event. 

3. Identity-first networking

Seiring meningkatnya adopsi cloud dan pola kerja hybrid, batas jaringan tradisional menjadi semakin kabur. Identity-first networking menggeser pendekatan keamanan dari berbasis lokasi menjadi berbasis identitas. Artinya, keputusan akses ditentukan oleh siapa yang mengakses, perangkat apa yang digunakan, serta konteks aktivitasnya. 

Model ini tidak hanya memperkuat postur keamanan, tetapi juga memberi kontrol yang lebih granular terhadap interaksi antar sistem. Bagi organisasi modern, identitas kini berfungsi sebagai control layer utama membantu memastikan bahwa hanya entitas yang terverifikasi yang dapat mengakses resource penting.

Berikut keuntungan utamanya: 

  • Kontrol akses yang lebih kontekstual dan adaptif.

  • Pengurangan risiko akses tidak sah di lingkungan hybrid.

  • Visibilitas yang lebih baik terhadap interaksi pengguna, perangkat, dan layanan.

4. Autonomous operations dan AIOps

Volume data operasional yang terus meningkat membuat analisis manual semakin sulit dilakukan secara konsisten. AIOps membantu mengatasi tantangan ini dengan mengkorelasikan berbagai sinyal, memprediksi perilaku sistem, dan bahkan mengotomatisasi respons terhadap insiden tertentu.
Namun, operasi otonom bukan berarti sepenuhnya tanpa campur tangan manusia. 

Approach yang paling efektif adalah automation with governance di mana workflow otomatis tetap berada dalam kerangka kontrol dan kebijakan yang jelas. Melalui kombinasi ini, tim IT dapat mengurangi waktu triage, meningkatkan akurasi diagnosis, dan mengalokasikan lebih banyak waktu untuk inisiatif strategis. 

Berikut keuntungan utamanya: 

  • Triage insiden lebih cepat dengan korelasi otomatis.

  • Prediksi kapasitas dan performa yang lebih akurat.

  • Pengurangan beban operasional melalui otomasi yang terkontrol.

5. Hybrid IT sebagai standar (Hybrid-by-Default)

Hybrid IT kini bukan lagi fase transisi, melainkan arsitektur default bagi banyak organisasi. Kombinasi cloud publik, privat, on-premises, SaaS, hingga edge menghadirkan fleksibilitas  tetapi juga kompleksitas yang harus dikelola dengan baik. 

Tanpa visibilitas terpadu, lingkungan hybrid berpotensi menciptakan blind spot yang menyulitkan troubleshooting maupun pengambilan keputusan. Karena itu, organisasi perlu memastikan konsistensi monitoring, governance, dan kebijakan di seluruh environment. Ketika dikelola dengan strategi yang tepat, hybrid IT justru dapat menjadi enabler bagi skalabilitas dan ketahanan operasional. 

Berikut keuntungan utamanya: 

  • Fleksibilitas dan optimasi biaya yang lebih baik.

  • Keputusan penempatan beban kerja yang lebih tepat dan keandalan layanan yang meningkat.

  • Skalabilitas infrastruktur tanpa mengorbankan kontrol operasional.

 

Mulai persiapkan ITOps Anda untuk operasional yang lebih baik

Seiring meningkatnya kompleksitas infrastruktur dan ekspektasi bisnis terhadap ketersediaan layanan, organisasi membutuhkan pendekatan operasional yang lebih terintegrasi, adaptif, dan berbasis visibilitas menyeluruh. 

Pelajari bagaimana solusi IT Operations Management dari ManageEngine dapat membantu organisasi Anda membangun operasional IT yang lebih tangguh dan siap menghadapi tantangan 2026 di https://www.manageengine.com/id/it-operations-management/
 

Resource: https://www.linkedin.com/pulse/technologies-redefine-itops-2026-manageengine-it-operations-managem-bilfc