AI dalam keamanan siber: Peluang dan risiko di 2026

Tahun 2026 akan menjadi tahun yang krusial bagi peran AI dalam keamanan siber. Di satu sisi, AI membantu mendeteksi ancaman lebih cepat, menganalisis serangan secara real-time, dan merespons insiden dengan otomatis. Namun di sisi lain, teknologi yang sama juga dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber. Kini, AI digunakan untuk menciptakan ransomware yang lebih canggih, meluncurkan serangan social engineering yang sulit diidentifikasi, dan memudahkan operasional kelompok kejahatan siber.
Bagi bisnis di Indonesia, memahami dua sisi AI ini sangat penting. Tanpa pemahaman yang cukup, Anda akan kesulitan menjaga keberlangsungan operasional, kepercayaan pelanggan, dan ketahanan digital di tengah lanskap ancaman yang terus berkembang.
Oleh karena itu, simak ulasan lengkap mengenai peluang dan risiko AI dalam keamanan siber di tahun 2026, serta apa yang bisa ManageEngine lakukan untuk membantu Anda menghadapinya.
Seperti apa peluang AI dalam keamanan siber di 2026?
Berikut ini adalah peluang dan pemanfaatan AI dalam keamanan siber di tahun 2026 yang dikutip dari berbagai artikel dan laporan industri.
Investasi AI dalam keamanan siber akan menjadi prioritas
Hasil survei 2026 Global Digital Trust dari PwC menunjukkan bahwa 78% organisasi berencana meningkatkan anggaran keamanan siber mereka di tahun 2026. Dalam perencanaan anggaran tersebut, investasi pada AI untuk cybersecurity akan menjadi prioritas utama (36%), disusul oleh cloud security (34%), network security (28%), dan data protection (26%). Fokus AI yang akan diterapkan meliputi AI threat hunting dan agentic AI.
Dorongan untuk berinvestasi pada AI dalam keamanan siber muncul karena risiko ancaman yang semakin kompleks dan minimnya keterampilan karyawan dalam memanfaatkan teknologi tersebut. Dari 3.887 eksekutif bisnis dan teknologi yang diwawancarai dalam survei PwC, hanya 6% menilai organisasi mereka mampu mengelola berbagai aspek keamanan siber, termasuk dalam penggunaan teknologi baru seperti AI. Selain itu, organisasi juga menganggap penggunaan AI bisa menjadi asisten digital yang memudahkan respons keamanan, sehingga meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
AI naik level: Dari alat bantu menjadi operator di setiap tahap
Dulu, AI mungkin hanya digunakan di bagian-bagian kecil dalam penanganan ancaman siber, seperti deteksi anomali atau analisis log saja. Namun, di tahun mendatang, AI akan diintegrasikan secara penuh dalam Security Operations Center (SOC). Di setiap lifecycle insiden, mulai dari identifikasi ancaman, prioritisasi risiko, respons otomatis, containment, hingga remediasi, AI akan mengambil peran. Bahkan, AI juga akan berfungsi sebagai self-improving security systems yang tak hanya mendeteksi ancaman, tetapi juga meningkatkan mekanisme perlindungan sistem secara otomatis.
Perubahan ini memungkinkan organisasi untuk meningkatkan pertahanan siber secara lebih efektif, terutama dalam menghadapi serangan yang semakin cepat, kompleks, dan masif, tanpa harus menambah sumber daya manusia secara signifikan.
AI sebagai copilot untuk security analyst dan threat hunter
Meski AI sudah menjadi bagian dalam otomatisasi SOC, peran manusia tetap menjadi faktor krusial. AI akan berfungsi sebagai copilot yang menyederhanakan pekerjaan harian security analyst dan threat hunter. Dengan bantuan AI, analyst tidak lagi harus terjebak dalam tumpukan alert yang memicu alert fatigue. Sebab, AI bisa membantu mengumpulkan data, memetakan ancaman ke framework MITRE ATT&CK, merangkum insiden, hingga merekomendasi tindakan mitigasi.
AI juga memungkinkan threat hunter untuk mempercepat investigasi mendalam terhadap serangan. Misalnya, seorang hunter dapat meminta AI untuk mencari tactic, technique, dan procedure (TTP) tertentu di lingkungan perusahaan, menganalisis sampel malware, atau mengidentifikasi pola ancaman tersembunyi. Dengan melakukan tugas-tugas repetitif ini, analyst dan threat hunter pun bisa lebih fokus pada analisis strategis dan pengambilan keputusan yang bernilai tinggi.
Meningkatnya agentic identity management
AI juga akan membuka peluang baru dalam manajemen identitas dan akses melalui pendekatan agentic identity management. Di tahun 2026, manajemen identitas akan menjadi aspek penting dalam keamanan siber, mengingat identitas sering menjadi titik awal serangan. Dengan pendekatan ini, sistem AI akan melakukan evaluasi risiko berkelanjutan dan menyesuaikan hak akses secara kontekstual berdasarkan perilaku pengguna, tingkat risiko, dan kebutuhan tugas yang sedang dijalankan.
Solusi ini akan mengadopsi prinsip least privilege, mekanisme just-in-time access, dan rantai delegasi yang terkontrol dengan baik. Dengan begitu, agentic identity management memungkinkan organisasi dalam meminimalkan risiko privilege creep, mencegah tindakan tidak sah atau berisiko tinggi, serta menjaga visibilitas dan akuntabilitas atas setiap hak akses yang diberikan.
Seperti apa risiko AI dalam keamanan siber di 2026?
Tak hanya peluang, penggunaan AI dalam keamanan siber juga akan membawa berbagai risiko seperti berikut.
Threat actor akan memanfaatkan AI secara penuh
Menurut Cybersecurity Forecast 2026 dari Google Cloud Security, penggunaan AI dalam kejahatan siber akan menjadi 'new normal' bagi threat actor, bukan sekadar untuk mendapatkan 'competitive advantage' saja. AI akan dimanfaatkan untuk meningkatkan kecepatan, jangkauan, dan efektivitas operasional serangan, termasuk dalam social engineering dan pengembangan malware. Selain itu, AI juga akan digunakan untuk mengotomatisasi tahapan dalam lifecycle serangan serta menciptakan serangan social engineering yang tampak lebih meyakinkan dan realistis.
Industrialisasi serangan siber
Dengan semakin canggihnya pemanfaatan AI oleh threat actor, pola serangan siber bergerak menuju industrialisasi. Pelaku kejahatan siber tidak lagi bergerak sebagai komunitas biasa, melainkan berkembang lebih terorganisir menjadi entitas layaknya perusahaan korporat. Mereka akan beroperasi seperti perusahaan pada umumnya: menjalankan model bisnis berlangganan atau afiliasi, mengandalkan outsourcing untuk mempercepat operasional, mempromosikan layanan lewat aktivitas marketing, bahkan memberikan layanan customer support.
Serangan yang diluncurkan juga akan jauh lebih canggih dan sulit dideteksi, berkat pemanfaatan AI. Contohnya, serangan impersonation terhadap jajaran eksekutif akan terlihat nyata, dilakukan secara masif, dan terstandarisasi. Ransomware pun akan berkembang menjadi semakin rumit dan terkoordinasi.
Prompt injection mungkin lebih sering terjadi
Prompt injection adalah salah satu jenis serangan siber yang menargetkan sistem AI dengan cara memanipulasi input agar model menembus protokol keamanan organisasi dan melakukan perintah dari attacker. Serangan ini semakin marak seiring dengan meluasnya integrasi AI dalam aktivitas operasional bisnis sehari-hari.
Serangan prompt injection relatif mudah dilakukan, tidak memerlukan biaya besar, namun berpotensi memberikan dampak yang signifikan. Itulah sebabnya, serangan prompt injection diperkirakan akan meningkat, khususnya dengan sasaran sistem AI yang digunakan di lingkungan perusahaan.
Tekanan regulasi AI di Eropa
Maraknya penggunaan AI membuat regulasi terkait semakin kompleks. Salah satunya adalah EU AI Act yang memperkenalkan berbagai risiko bagi organisasi yang mengembangkan atau menerapkan sistem AI berisiko tinggi. Organisasi diwajibkan mematuhi persyaratan terkait manajemen risiko, data governance, transparansi, dan pengawasan manusia. Sehingga, AI governance harus diterapkan secara menyeluruh, bukan hanya sebagai checklist compliance saja.
Untuk memenuhi regulasi ini, organisasi perlu menyediakan bukti konkret bahwa fitur berbasis AI tidak menimbulkan risiko keamanan atau privasi yang tidak terkendali. Selain itu, sistem AI harus dapat dijelaskan dan dipertanggungjawabkan kepada regulator kapan pun diperlukan. Aspek teknis seperti ini menjadi penting bagi setiap organisasi yang memiliki produk atau layanan berbasis AI.
Apa yang bisa Anda lakukan di 2026?
Jangan takut ketika attacker menggunakan AI sebagai ancaman siber. Lawan balik dengan memanfaatkan teknologi yang sama untuk perlindungan terhadap ancaman. Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa Anda terapkan.
1. Memanfaatkan solusi cybersecurity berbasis AI
Organisasi perlu memanfaatkan solusi cybersecurity yang telah dilengkapi kapabilitas AI. Pilihlah solusi yang tepat dan memiliki kapabilitas AI yang relevan di setiap lapisan keamanan. Berikut adalah beberapa solusi cybersecurity yang harus Anda implementasikan.
Unified Endpoint Management & Security (UEMS)
UEMS merupakan fondasi penting untuk mengamankan perangkat kerja yang semakin beragam dan terdistribusi.
Kapabilitas AI yang perlu ada:
Behavior detection engine untuk mengidentifikasi aktivitas berbahaya dengan akurat, termasuk ransomware.
Deteksi ancaman dan remediasi real-time yang secara proaktif memblokir malware, memperbaiki konfigurasi, dan melakukan patch vulnerability.
Next-gen antivirus dengan teknologi machine learning dan deep-learning untuk mendeteksi ancaman yang belum dikenal.
Security Information and Event Management (SIEM)
SIEM berperan sebagai pusat visibilitas dan korelasi keamanan di seluruh lingkungan IT.
Kapabilitas AI yang perlu ada:
User and Entity Behavior Analytics (UEBA) untuk mendeteksi perilaku pengguna dan entitas yang tidak wajar.
Korelasi log dan event secara otomatis untuk mengidentifikasi pola serangan tersembunyi.
Pemetaan ancaman ke framework seperti MITRE ATT&CK untuk konteks dan investigasi lebih cepat.
Rekomendasi tindakan mitigasi berbasis AI untuk mempercepat respons insiden.
Deteksi dan kontrol penggunaan shadow AI di organisasi.
Identity and Access Management (IAM)
IAM membantu mengelola dan mengamankan identitas digital yang sering menjadi target serangan siber.
Kapabilitas AI yang perlu ada:
Privileged User Behavior Analytics (PUBA) untuk mendeteksi pola aktivitas user privilege yang mencurigakan.
Risk-based authentication yang menyesuaikan tingkat autentikasi berdasarkan konteks dan tingkat risiko saat login.
Identifikasi akun tidak aktif secara berkala untuk menghindari penyalahgunaan akun.
Deteksi insider threat melalui berbagai indikator, seperti lateral movement dan eksekusi proses tidak biasa.
IT Operations Management (ITOM)
ITOM mendukung deteksi dini terhadap potensi insiden keamanan maupun gangguan operasional.
Kapabilitas AI yang perlu ada:
Deteksi anomali untuk mengenali lonjakan traffic dan perilaku perangkat tidak biasa.
Root cause analysis (RCA) untuk menelusuri sumber permasalahan secara lebih akurat.
Alert berbasis prioritas agar tim dapat fokus pada isu paling berdampak.
Workflow otomatis untuk memicu tindakan khusus sehingga proses resolusi berjalan lebih cepat.
Dynamic threshold yang menyesuaikan ambang batas berdasarkan data historis dan perilaku aplikasi.
2. Meningkatkan skill karyawan
Integrasi antara keahlian manusia dengan kapabilitas AI menjadi sangat penting dalam keamanan siber. Tanpa pemahaman yang memadai, teknologi secanggih apa pun yang organisasi gunakan untuk menghalau ancaman siber hanya akan menjadi fitur yang jarang digunakan.
Oleh karena itu, organisasi perlu berinvestasi pada peningkatan skill karyawan, baik melalui pelatihan teknis, simulasi insiden, maupun pemahaman cara bekerja dengan AI dalam aktivitas keamanan sehari-hari. Dengan kombinasi human expertise dan AI yang tepat, organisasi dapat mengambil keputusan yang lebih cepat dan akurat dalam menghadapi ancaman siber.
3. Mengalihkan fokus anggaran untuk cybersecurity initiatives
Banyak organisasi di berbagai negara mulai mengalihkan pengelolaan anggaran mereka ke inisiatif terkait keamanan siber. Bagaimana dengan Anda?
Memberikan porsi anggaran yang besar untuk keamanan siber memang bukan kewajiban. Namun, jika memungkinkan, langkah ini bisa menjadi investasi jangka panjang untuk mencegah kerugian yang lebih besar akibat serangan siber.
Dengan pembagian anggaran yang lebih terarah, organisasi dapat berinvestasi pada teknologi dan kapabilitas yang mendukung ketahanan jangka panjang, seperti solusi cybersecurity berbasis AI/ML, exposure management and cyber risk quantification (CRQ), dan security data lakes.
4. Merancang kebijakan dan strategi terkait keamanan
Seiring meningkatnya kompleksitas ancaman siber, organisasi perlu memiliki kebijakan serta panduan keamanan yang jelas dan relevan. Tanpa strategi yang terarah, upaya keamanan siber bisa menjadi tidak efisien meskipun sudah didukung oleh teknologi yang canggih.
Contoh strategi dan kebijakan yang bisa diterapkan misalnya kebijakan penggunaan AI di lingkungan internal dan panduan penerapan AI dalam proses keamanan. Dengan kebijakan ini, organisasi dapat memastikan organisasi tetap aman, meskipun ancaman siber berbasis AI terus meningkat.
Tahun 2026 akan menjadi fase penting bagi peran AI dalam keamanan siber. Di satu sisi, AI membuka peluang besar untuk keamanan siber yang lebih optimal. Namun, di sisi lain, AI juga membuat serangan siber semakin kompleks dan canggih.
Untuk menghadapinya, Anda perlu mengimplementasikan solusi cybersecurity berbasis AI di setiap lapisan sistem. Eksplor berbagai solusi keamanan ManageEngine, jadwalkan demo bersama tim kami, dan rasakan bagaimana kapabilitas AI membantu menjaga keamanan organisasi secara menyeluruh.