Menghadapi Lonjakan Ancaman Siber Selama Ramadan: Strategi yang Perlu Disiapkan Organisasi

Menjelang ramadan dan idulfitri, aktivitas digital biasanya meningkat signifikan mulai dari transaksi online, pemesanan perjalanan, hingga akses sistem perusahaan dari berbagai lokasi. Namun, di tengah lonjakan ini, risiko keamanan siber juga ikut bertambah. Beberapa laporan media bahkan menyoroti adanya peningkatan kasus phishing selama periode mudik, menunjukkan bahwa momentum liburan kerap dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk melancarkan serangan.

Ketika volume aktivitas meningkat sementara sebagian karyawan mengambil cuti, celah keamanan dapat lebih mudah muncul tanpa disadari. Karena itu, penting bagi tim IT untuk memahami mengapa ancaman siber cenderung naik selama ramadan, serta langkah strategis apa yang perlu dipersiapkan untuk menjaga operasional tetap aman dan stabil.

 

Mengapa serangan siber cenderung meningkat selama ramadan? 

Periode ramadan hingga libur lebaran sering kali diiringi dengan perubahan pola kerja dan perilaku digital. Kombinasi antara meningkatnya aktivitas online dan berkurangnya kewaspadaan menciptakan momentum yang kerap dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber. Tanpa kesiapan yang memadai, kondisi ini dapat memperbesar risiko gangguan operasional pada saat bisnis justru perlu tetap berjalan stabil.

1. Lonjakan aktivitas digital 

Selama ramadan, organisasi biasanya mengalami peningkatan penggunaan layanan digital baik untuk operasional internal maupun interaksi dengan pelanggan. Volume login yang lebih tinggi, transaksi online, serta pertukaran data yang semakin masif memperluas attack surface dan membuka lebih banyak titik masuk bagi attacker. Semakin kompleks ekosistem digital yang dikelola, semakin besar pula kebutuhan akan visibilitas dan kontrol keamanan yang konsisten.

2. Fokus pengguna terpecah 

Perubahan jam kerja hingga persiapan liburan dapat membuat karyawan kurang teliti saat menerima email atau notifikasi mencurigakan. Dalam kondisi seperti ini, serangan phishing menjadi jauh lebih efektif karena mengandalkan kelengahan manusia sebagai celah utama. Bahkan organisasi dengan kontrol teknis yang kuat tetap berisiko jika faktor human error tidak diantisipasi.

3. Keterbatasan sumber daya IT 

Tidak sedikit anggota tim mengambil cuti menjelang atau setelah lebaran. Dengan kapasitas tim yang lebih ramping, proses monitoring bisa melambat dan respons terhadap insiden berisiko tertunda memberi waktu lebih bagi attacker untuk bergerak tanpa terdeteksi. Situasi ini semakin menegaskan pentingnya otomatisasi dan sistem alert yang proaktif agar potensi ancaman tetap dapat direspons dengan cepat.

4. Akses sistem dari berbagai lokasi 

Tren kerja fleksibel membuat banyak karyawan tetap terhubung ke sistem perusahaan saat bepergian atau mudik. Tanpa kontrol keamanan yang konsisten, akses dari jaringan publik atau perangkat pribadi dapat meningkatkan risiko kompromi kredensial. Jika tidak dikelola dengan baik, pola akses yang tersebar ini dapat menciptakan blind spot yang menyulitkan tim IT dalam menjaga keamanan secara menyeluruh.

 

Bagaimana organisasi bisa bersiap menghadapi peningkatan ancaman siber? 

Menghadapi periode dengan risiko lebih tinggi membutuhkan pendekatan yang tidak hanya reaktif, tetapi juga terencana. Organisasi yang mempersiapkan diri lebih awal cenderung mampu menjaga stabilitas operasional, bahkan ketika aktivitas bisnis meningkat dan sumber daya terbatas. Dengan strategi yang tepat, potensi gangguan keamanan dapat diminimalkan tanpa menghambat produktivitas.

1. Lakukan security check sebelum periode libur 

Audit keamanan sebelum libur panjang membantu organisasi mengidentifikasi celah yang mungkin terlewat dalam operasional sehari-hari. Pendekatan preventif ini penting untuk memastikan sistem tetap terlindungi saat pengawasan tidak seintens biasanya. Langkah sederhana ini dapat secara signifikan mengurangi peluang attacker mengeksploitasi celah yang belum tertutup.

Checklist yang dapat dilakukan:

  • Pastikan patch dan update keamanan telah diterapkan di seluruh server, aplikasi, dan endpoint

  • Identifikasi serta prioritaskan kerentanan dengan tingkat risiko tinggi

  • Verifikasi bahwa firewall, antivirus, dan endpoint protection berjalan optimal

  • Tinjau konfigurasi backup dan lakukan uji pemulihan data

  • Nonaktifkan akun tidak aktif atau yang sudah tidak digunakan

2. Perkuat kontrol akses 

Akses yang tidak terkelola dengan baik sering menjadi titik awal terjadinya insiden keamanan. Memperketat kontrol akses, organisasi dapat membatasi ruang gerak attacker meskipun kredensial berhasil dikompromikan. Kontrol akses yang disiplin tidak hanya meningkatkan keamanan, tetapi juga membantu memenuhi kebutuhan audit dan kepatuhan.

Checklist yang direkomendasikan:

  • Terapkan prinsip least privilege untuk seluruh pengguna

  • Aktifkan multi-factor authentication (MFA), terutama untuk akun kritis

  • Tinjau ulang hak akses privileged secara berkala

  • Gunakan kebijakan password yang kuat dan rotasi kredensial

  • Monitor aktivitas login yang tidak biasa

3. Tingkatkan monitoring dan alerting 

Ketika kapasitas tim berkurang, visibilitas menjadi faktor penentu dalam mendeteksi ancaman lebih awal. Monitoring yang proaktif memungkinkan tim IT merespons anomali sebelum berkembang menjadi gangguan besar. Semakin cepat ancaman terdeteksi, semakin kecil dampak yang harus ditanggung organisasi.

Langkah yang dapat diprioritaskan:

  • Aktifkan pemantauan real-time untuk sistem dan jaringan kritis

  • Gunakan alert berbasis risiko agar tim fokus pada ancaman paling mendesak

  • Konsolidasikan log dalam satu dashboard terpusat

  • Manfaatkan otomatisasi untuk mempercepat deteksi

  • Lakukan health check infrastruktur secara berkala

4. Siapkan rencana respons insiden 

Tidak ada sistem yang sepenuhnya kebal terhadap serangan. Karena itu, kesiapan dalam merespons insiden sama pentingnya dengan upaya pencegahan. Rencana yang jelas membantu tim bertindak cepat tanpa harus mengambil keputusan di bawah tekanan.

Pastikan organisasi memiliki:

  • Alur eskalasi yang terdokumentasi dengan jelas

  • Penanggung jawab untuk setiap tahap respons

  • Prosedur isolasi sistem terdampak

  • Strategi komunikasi internal dan eksternal

  • Evaluasi pasca-insiden untuk mencegah kejadian serupa

 

Bagaimana ManageEngine membantu organisasi memperkuatkan ketahanan siber?

Mempersiapkan strategi keamanan adalah langkah penting, tetapi efektivitasnya sangat bergantung pada teknologi yang mendukungnya. Tanpa visibilitas yang memadai dan kontrol yang terintegrasi, tim IT akan kesulitan mendeteksi ancaman lebih awal maupun merespons insiden secara cepat. Karenanya, banyak organisasi mulai beralih ke pendekatan keamanan terpadu menggabungkan deteksi, pencegahan, dan respons dalam satu ekosistem yang saling terhubung.

Deteksi ancaman lebih cepat dengan visibilitas terpusat 

Memahami apa yang terjadi di seluruh lingkungan IT merupakan fondasi dari keamanan yang kuat. Dengan kemampuan security information and event management (SIEM), organisasi dapat mengumpulkan dan menganalisis log dari berbagai sumber untuk menemukan pola aktivitas mencurigakan. Melalui Log360, tim IT dapat:

  • memantau aktivitas pengguna dan jaringan secara real-time

  • mendeteksi anomali sebelum berkembang menjadi insiden

  • menerima alert kontekstual untuk mempercepat investigasi

  • mendukung kebutuhan audit melalui jejak log yang terdokumentasi

Mengontrol dan mengamankan akses kritis 

Akun dengan hak akses tinggi sering menjadi target utama attacker. Tanpa pengawasan yang ketat, satu kredensial yang dikompromikan dapat membuka jalan ke sistem yang lebih luas. Melalui kontrol yang lebih disiplin, organisasi dapat mengurangi risiko penyalahgunaan akses sekaligus meningkatkan kesiapan terhadap audit.

PAM360 membantu organisasi memperkuat kontrol privileged access dengan cara:

  • mengamankan kredensial penting dalam vault terenkripsi

  • menerapkan kebijakan akses berbasis peran

  • merekam dan mengaudit sesi pengguna istimewa

  • mencegah eskalasi privilege tanpa otorisasi

Melindungi endpoint di mana pun karyawan bekerja 

Saat karyawan mengakses sistem dari berbagai lokasi atau perangkat, endpoint menjadi salah satu garis pertahanan terpenting. Pengelolaan yang terpusat memungkinkan tim IT memastikan setiap perangkat tetap memenuhi standar keamanan perusahaan.

Menggunakan Endpoint Central, organisasi dapat:

  • mengotomatiskan patch management untuk menutup celah keamanan

  • menerapkan kebijakan perangkat secara konsisten

  • memantau dan mengelola endpoint dari satu dashboard

  • merespons ancaman seperti malware atau ransomware dengan lebih cepat

Menjaga ketersediaan layanan melalui monitoring proaktif 

Ketahanan bisnis tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mencegah serangan, tetapi juga oleh seberapa cepat organisasi dapat mengidentifikasi gangguan. Monitoring yang berkelanjutan memberikan insight terhadap kesehatan jaringan dan performa infrastruktur.

Menggunakan OpManager, tim IT dapat:

  • memperoleh visibilitas menyeluruh terhadap perangkat jaringan

  • mendeteksi potensi gangguan sebelum memengaruhi pengguna

  • mempercepat proses troubleshooting

  • memastikan layanan tetap berjalan optimal meski terjadi lonjakan trafik

Membangun strategi keamanan yang lebih proaktif 

Keamanan modern tidak lagi efektif jika dijalankan secara terpisah. Ketika visibilitas, kontrol akses, perlindungan endpoint, dan monitoring bekerja bersama, organisasi dapat membangun fondasi ketahanan siber yang lebih kuat.

Dengan pendekatan terpadu ini, tim IT tidak hanya lebih siap menghadapi potensi serangan selama ramadan, tetapi juga lebih tangguh dalam mengelola risiko jangka panjang.

Pelajari lebih lanjut bagaimana solusi cybersecurity ManageEngine dapat membantu organisasi Anda tetap terlindungi sekaligus menjaga keberlangsungan operasional di tengah lanskap ancaman yang terus berkembang.