Apa Itu SSO? Panduan Single Sign-On untuk Keamanan Akses Perusahaan
Hampir setiap karyawan saat ini menggunakan berbagai aplikasi untuk bekerja, mulai dari email, HRIS, CRM, platform kolaborasi, hingga aplikasi bisnis lainnya. Jika setiap aplikasi memerlukan username dan password yang berbeda, pengguna harus login berulang kali dan mengingat banyak kredensial setiap hari.
Selain mengurangi produktivitas, kondisi ini juga meningkatkan risiko keamanan. Tidak sedikit pengguna yang akhirnya menggunakan password yang sama untuk beberapa akun, memilih password yang mudah ditebak, atau sering meminta bantuan tim IT untuk melakukan reset password. Salah satu solusi yang banyak diterapkan organisasi untuk mengatasi tantangan tersebut adalah Single Sign-On (SSO).
Dalam artikel ini, Anda akan mempelajari apa itu SSO, cara kerjanya, manfaatnya bagi organisasi, protokol yang digunakan, hingga praktik terbaik implementasi Single Sign-On di lingkungan enterprise.
Apa itu SSO (Single Sign-On)?
Single Sign-On (SSO) adalah metode autentikasi yang memungkinkan pengguna mengakses beberapa aplikasi atau sistem hanya dengan satu kali login. Setelah verifikasi identitas pengguna berhasil, pengguna dapat berpindah antar aplikasi tanpa perlu memasukkan username dan password kembali.
Sebagai contoh, seorang karyawan cukup login sekali menggunakan akun perusahaan di pagi hari. Setelah itu, ia dapat langsung mengakses email, aplikasi HR, CRM, platform kolaborasi, hingga dashboard analitik tanpa harus login ulang pada setiap aplikasi.
Bagi organisasi, SSO tidak hanya meningkatkan kenyamanan pengguna, tetapi juga membantu tim IT mengelola autentikasi dan kontrol akses secara terpusat. Seluruh kebijakan keamanan, seperti persyaratan password, autentikasi multifaktor (MFA), hingga pencabutan hak akses pengguna dapat diterapkan secara konsisten dari satu identitas utama.
Secara sederhana, SSO dapat diibaratkan seperti kartu akses gedung perkantoran. Pengguna cukup menggunakan satu kartu untuk memasuki berbagai ruangan yang memang menjadi hak aksesnya, tanpa perlu membawa kartu yang berbeda untuk setiap pintu.
Mengapa organisasi membutuhkan Single Sign-On (SSO)?
Seiring meningkatnya penggunaan aplikasi cloud dan sistem digital, karyawan kini harus mengakses lebih banyak aplikasi dibandingkan beberapa tahun lalu. Dalam satu hari kerja, seorang pengguna dapat berpindah antara email, HRIS, CRM, platform kolaborasi, aplikasi keuangan, hingga sistem internal perusahaan.
Jika setiap aplikasi menggunakan akun dan password yang berbeda, pengguna harus melakukan login berulang kali. Selain menyita waktu, kondisi ini juga meningkatkan risiko keamanan karena banyak pengguna akhirnya menggunakan password yang sama di beberapa aplikasi atau memilih password yang mudah diingat.
Di sisi lain, tim IT juga menghadapi tantangan dalam mengelola identitas pengguna. Proses onboarding karyawan baru, perubahan hak akses, hingga pencabutan akses saat karyawan keluar sering kali harus dilakukan secara manual di setiap aplikasi. Semakin banyak aplikasi yang digunakan organisasi, semakin kompleks pula proses administrasi akses tersebut. Single Sign-On (SSO) membantu mengatasi tantangan tersebut dengan memusatkan proses autentikasi dalam satu identitas. Pengguna cukup login satu kali untuk mengakses aplikasi yang telah diotorisasi, sementara tim IT dapat mengelola akses pengguna dari satu pusat kendali.
SSO umumnya menjadi pilihan yang tepat apabila organisasi memiliki kondisi berikut:
Menggunakan banyak aplikasi cloud maupun aplikasi internal.
Memiliki karyawan yang sering berpindah antar aplikasi selama bekerja.
Mengelola Active Directory identitas user atau layanan direktori lainnya.
Menerapkan kebijakan keamanan seperti Multi-Factor Authentication (MFA).
Perlu memenuhi persyaratan audit dan kepatuhan, seperti UU PDP atau ISO 27001.
Ingin mengurangi jumlah tiket helpdesk yang berkaitan dengan solusi reset password dan masalah login.
SSO vs login tradisional: apa bedanya?
Perbedaan utama antara login tradisional dan Single Sign-On terletak pada cara pengguna melakukan autentikasi serta bagaimana organisasi mengelola identitas pengguna.
Pada sistem login tradisional, setiap aplikasi memiliki proses autentikasi sendiri. Pengguna harus mengingat banyak username dan password, sedangkan tim IT harus mengelola akun secara terpisah di setiap aplikasi.
Sebaliknya, pada implementasi SSO, proses autentikasi dilakukan melalui satu layanan identitas (Identity Provider). Setelah pengguna berhasil login, identitas tersebut digunakan untuk mengakses seluruh aplikasi yang telah mendapatkan izin tanpa perlu login ulang.
Login Tradisional | Single Sign-On (SSO) |
Login dilakukan pada setiap aplikasi | Login dilakukan satu kali untuk semua aplikasi yang terhubung |
Banyak username dan password | Satu identitas untuk berbagai aplikasi |
Password lebih sulit dikelola | Pengelolaan identitas lebih sederhana |
Reset password lebih sering terjadi | Jumlah tiket reset password dapat berkurang |
Administrasi akses dilakukan di setiap aplikasi | Hak akses dapat dikelola secara terpusat |
Pengalaman pengguna kurang efisien | Pengalaman login lebih cepat dan konsisten |
Meskipun memberikan pengalaman login yang lebih praktis, SSO tetap memerlukan mekanisme keamanan tambahan agar tidak menjadi satu titik risiko. Oleh karena itu, sebagian besar organisasi mengombinasikan SSO dengan Multi-Factor Authentication (MFA) sehingga pengguna tetap harus melakukan verifikasi tambahan saat login dari perangkat, lokasi, atau kondisi yang dianggap berisiko.
Bagaimana cara kerja Single Sign-On (SSO)
Secara sederhana, Single Sign-On (SSO) bekerja dengan memusatkan proses autentikasi pengguna pada satu layanan identitas. Ketika pengguna berhasil login, layanan tersebut akan mengonfirmasi identitasnya kepada aplikasi lain yang telah terhubung sehingga pengguna tidak perlu memasukkan username dan password berulang kali.
Dalam implementasi SSO, terdapat dua komponen utama yang saling bekerja sama, yaitu Identity Provider (IdP) dan Service Provider (SP).
Identity Provider (IdP)
Identity Provider (IdP) adalah sistem yang bertugas memverifikasi identitas pengguna. Setelah proses autentikasi berhasil, IdP akan mengirimkan bukti bahwa pengguna telah terverifikasi kepada aplikasi yang ingin diakses.
Contoh Identity Provider yang banyak digunakan organisasi antara lain:
Microsoft Active Directory Federation Services (AD FS)
Microsoft Entra ID (sebelumnya Azure Active Directory)
Okta
Ping Identity
ManageEngine ADSelfService Plus
Selain memverifikasi identitas, IdP juga dapat menerapkan berbagai kebijakan keamanan, seperti Multi-Factor Authentication (MFA), kebijakan password, pembatasan akses berdasarkan lokasi, hingga autentikasi berbasis risiko.
Service Provider (SP)
Service Provider (SP) adalah aplikasi atau layanan yang digunakan oleh pengguna. Alih-alih meminta pengguna login secara langsung, aplikasi akan mempercayakan proses autentikasi kepada Identity Provider.
Contoh Service Provider meliputi:
Microsoft 365
Google Workspace
Salesforce
Slack
Zoom
Workday
Aplikasi internal perusahaan
Dengan pendekatan ini, setiap aplikasi tidak perlu menyimpan atau memverifikasi password pengguna secara mandiri. Seluruh proses autentikasi dilakukan oleh Identity Provider.
Bagaimana workflow autentikasi SSO?
Secara umum, proses login menggunakan SSO berlangsung melalui tahapan berikut.
Pengguna membuka salah satu aplikasi yang mendukung SSO.
Aplikasi mendeteksi bahwa pengguna belum login, kemudian mengarahkan pengguna ke Identity Provider.
Identity Provider meminta pengguna melakukan autentikasi, misalnya menggunakan username dan password serta MFA jika diterapkan.
Setelah identitas berhasil diverifikasi, Identity Provider membuat token atau assertion sebagai bukti autentikasi.
Token tersebut dikirim kembali ke aplikasi yang diminta.
Aplikasi memverifikasi token dan memberikan akses kepada pengguna.
Selama sesi login masih aktif, pengguna dapat membuka aplikasi lain yang terhubung tanpa perlu login kembali.
Menerapkan mekanisme tersebut, proses autentikasi hanya dilakukan satu kali, sementara akses ke berbagai aplikasi dapat diberikan secara otomatis sesuai hak akses masing-masing pengguna.
Contoh: Seorang karyawan login ke portal perusahaan menggunakan akun Active Directory. Setelah berhasil login, ia dapat langsung membuka Microsoft 365, aplikasi HR, CRM, hingga dashboard monitoring tanpa perlu memasukkan password lagi selama sesi autentikasinya masih aktif.
Apa yang dimaksud dengan trust relationship?
Agar SSO dapat bekerja, Identity Provider dan Service Provider harus memiliki trust relationship, yaitu hubungan kepercayaan yang telah dikonfigurasi sebelumnya. Hubungan ini memastikan bahwa aplikasi hanya menerima identitas dari Identity Provider yang terpercaya. Saat Identity Provider mengirimkan token autentikasi, aplikasi akan memverifikasi keaslian token tersebut sebelum memberikan akses kepada pengguna.
Karena menggunakan mekanisme kepercayaan ini, password pengguna tidak dikirimkan ke setiap aplikasi. Sebaliknya, aplikasi hanya menerima informasi bahwa identitas pengguna telah berhasil diverifikasi oleh Identity Provider. Pendekatan ini membantu meningkatkan keamanan sekaligus mengurangi risiko penyebaran kredensial ke berbagai sistem.
Protokol yang digunakan dalam Single Sign-On (SSO)
Agar Identity Provider dan Service Provider dapat saling bertukar informasi autentikasi dengan aman, implementasi SSO menggunakan protokol atau standar komunikasi tertentu. Tiga protokol yang paling umum digunakan adalah SAML 2.0, OAuth 2.0, dan OpenID Connect (OIDC). Masing-masing memiliki fungsi dan kasus penggunaan yang berbeda. Memahami perbedaannya dapat membantu organisasi memilih metode autentikasi yang sesuai dengan aplikasi dan infrastruktur yang digunakan.
SAML 2.0 (Security Assertion Markup Language)
SAML 2.0 merupakan standar autentikasi yang paling banyak digunakan di lingkungan enterprise. Protokol ini memungkinkan Identity Provider mengirimkan informasi autentikasi kepada aplikasi menggunakan dokumen XML yang disebut SAML Assertion.
Karena telah digunakan selama bertahun-tahun, SAML didukung oleh sebagian besar aplikasi enterprise dan sistem on-premises.
SAML umumnya digunakan untuk:
Portal perusahaan
Aplikasi internal berbasis web
Microsoft 365
Salesforce
ServiceNow
Berbagai aplikasi enterprise lainnya
Kelebihan SAML 2.0:
Telah menjadi standar industri untuk SSO enterprise.
Didukung oleh banyak vendor dan aplikasi bisnis.
Cocok untuk lingkungan Active Directory dan sistem on-premises.
Memiliki tingkat keamanan yang tinggi untuk autentikasi berbasis web.
OAuth 2.0
Berbeda dengan SAML, OAuth 2.0 sebenarnya merupakan protokol otorisasi (authorization), bukan autentikasi.
OAuth memungkinkan aplikasi memperoleh izin untuk mengakses data atau layanan tertentu atas nama pengguna tanpa perlu mengetahui password pengguna tersebut.
Sebagai contoh, ketika Anda menghubungkan aplikasi pihak ketiga dengan akun Google dan muncul pesan "Izinkan aplikasi ini mengakses Google Drive Anda?", proses tersebut menggunakan OAuth.
OAuth banyak digunakan pada:
API
Aplikasi mobile
Integrasi antar aplikasi
Platform cloud
Arsitektur microservices
Kelebihan OAuth 2.0:
Fleksibel untuk berbagai jenis aplikasi modern.
Cocok untuk integrasi berbasis API.
Mengurangi kebutuhan berbagi password dengan aplikasi lain.
Banyak digunakan oleh penyedia layanan cloud.
OpenID Connect (OIDC)
OpenID Connect (OIDC) adalah lapisan autentikasi yang dibangun di atas OAuth 2.0. Protokol ini memungkinkan aplikasi mengetahui identitas pengguna setelah proses login berhasil dilakukan.
Saat ini, OIDC menjadi salah satu standar yang paling banyak digunakan untuk aplikasi modern karena lebih ringan dibandingkan SAML dan dirancang untuk mendukung layanan berbasis cloud.
OIDC banyak digunakan pada:
Aplikasi SaaS
Aplikasi mobile
Single Page Application (SPA)
Platform cloud-native
REST API
Kelebihan OpenID Connect:
Lebih ringan dibandingkan SAML.
Mendukung aplikasi web dan mobile modern.
Menggunakan format JSON Web Token (JWT) yang efisien.
Mudah diintegrasikan dengan berbagai layanan cloud.
Protokol | Fungsi utama | Umumnya digunakan untuk |
SAML 2.0 | Autentikasi | Aplikasi enterprise, portal perusahaan, sistem on-premises |
OAuth 2.0 | Otorisasi | API, aplikasi mobile, integrasi layanan cloud |
OpenID Connect (OIDC) | Autentikasi modern | Aplikasi SaaS, aplikasi mobile, dan layanan cloud |
Apa saja manfaat Single Sign-On (SSO) bagi organisasi?
Selain memberikan pengalaman login yang lebih praktis, Single Sign-On (SSO) membantu organisasi meningkatkan keamanan, efisiensi operasional, serta pengelolaan identitas pengguna. Manfaat ini semakin terasa pada perusahaan yang menggunakan banyak aplikasi cloud maupun sistem internal.
Berikut beberapa manfaat utama penerapan SSO di lingkungan enterprise.
1. Meningkatkan produktivitas pengguna
Tanpa SSO, pengguna harus login berulang kali setiap kali berpindah aplikasi. Aktivitas yang tampak sederhana ini dapat menghabiskan waktu jika dilakukan berkali-kali dalam satu hari kerja.
Dengan SSO, pengguna cukup melakukan autentikasi satu kali untuk mengakses seluruh aplikasi yang telah diizinkan. Proses berpindah dari email ke aplikasi HR, CRM, platform kolaborasi, atau sistem bisnis lainnya menjadi lebih cepat sehingga karyawan dapat lebih fokus pada pekerjaannya.
Pengalaman login yang lebih sederhana juga meningkatkan kepuasan pengguna karena mereka tidak perlu lagi mengingat banyak username dan password.
2. Mengurangi beban tim IT dan helpdesk
Salah satu penyebab paling umum tiket helpdesk adalah masalah login dan reset password. Menggunakan SSO, pengguna hanya perlu mengingat satu kredensial utama. Jika dipadukan dengan fitur self-service password reset (SSPR), pengguna bahkan dapat mengatur ulang password sendiri tanpa harus menghubungi tim IT. Hal ini membantu organisasi:
mengurangi jumlah tiket reset password,
mempercepat penyelesaian masalah akses,
serta memungkinkan tim IT lebih fokus pada pekerjaan yang bernilai strategis.
3. Memperkuat keamanan identitas
Mengelola banyak akun dan password sering kali mendorong pengguna menggunakan password yang sama di berbagai aplikasi. Praktik ini meningkatkan risiko apabila salah satu akun mengalami kebocoran kredensial.
SSO membantu mengurangi risiko tersebut karena proses autentikasi dilakukan melalui satu Identity Provider yang dapat menerapkan kebijakan keamanan secara konsisten, seperti:
kebijakan password yang lebih kuat,
Multi-Factor Authentication (MFA),
autentikasi berbasis risiko,
pembatasan akses berdasarkan lokasi atau perangkat,
serta pemantauan aktivitas login secara terpusat.
4. Mempermudah pengelolaan hak akses
Pada organisasi dengan ratusan atau ribuan pengguna, mengelola akses secara manual di setiap aplikasi dapat menjadi pekerjaan yang kompleks. Melalui SSO yang terintegrasi dengan layanan direktori seperti Active Directory, administrator dapat mengelola hak akses dari satu pusat kendali. Ketika ada karyawan baru bergabung, berpindah divisi, atau keluar dari perusahaan, perubahan akses cukup dilakukan pada identitas utama pengguna.
Pendekatan ini membantu mengurangi kesalahan konfigurasi sekaligus memastikan setiap pengguna hanya memperoleh akses sesuai kebutuhan pekerjaannya.
5. Mendukung kepatuhan terhadap regulasi
Banyak standar keamanan dan regulasi mengharuskan organisasi menerapkan kontrol akses yang memadai terhadap sistem dan data. SSO membantu memenuhi kebutuhan tersebut melalui pengelolaan identitas yang terpusat, pencatatan aktivitas autentikasi, serta kemudahan dalam meninjau maupun mencabut hak akses pengguna. Di Indonesia, penerapan SSO dapat mendukung berbagai kebutuhan kepatuhan, seperti:
UU Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) yang menekankan pentingnya perlindungan akses terhadap data pribadi.
ISO/IEC 27001, khususnya pada pengendalian identitas dan akses pengguna.
Persyaratan audit internal maupun eksternal yang memerlukan jejak audit autentikasi dan aktivitas pengguna.
Meskipun SSO bukan satu-satunya persyaratan untuk memenuhi regulasi tersebut, penerapannya dapat menjadi bagian penting dari strategi Identity and Access Management (IAM) organisasi.
6. Mendukung transformasi digital dan lingkungan kerja hybrid
Saat ini banyak organisasi menggunakan kombinasi aplikasi on-premises dan cloud. Karyawan juga dapat bekerja dari kantor, rumah, maupun lokasi lainnya.
SSO memberikan pengalaman autentikasi yang konsisten di berbagai perangkat dan lokasi tanpa mengurangi kontrol keamanan. Ketika dikombinasikan dengan MFA dan kebijakan akses berbasis risiko, organisasi dapat memberikan akses yang aman sekaligus tetap menjaga produktivitas pengguna.
Bagaimana best practice untuk mengimplementasikan SSO secara aman?
Agar manfaat SSO dapat dirasakan secara maksimal tanpa meningkatkan risiko keamanan, organisasi perlu menerapkan beberapa praktik terbaik berikut.
Selalu kombinasikan SSO dengan Multi-Factor Authentication (MFA)
SSO memudahkan pengguna karena hanya memerlukan satu kali login. Namun, kemudahan ini juga berarti satu akun menjadi pintu masuk ke berbagai aplikasi. Jika kredensial pengguna berhasil dicuri, penyerang berpotensi mengakses seluruh aplikasi yang terhubung.
Karena itu, SSO sebaiknya selalu dipadukan dengan Multi-Factor Authentication (MFA). Dengan MFA, pengguna tetap harus melakukan verifikasi tambahan, seperti kode OTP, aplikasi autentikator, biometrik, atau notifikasi push sebelum akses diberikan. Lapisan keamanan tambahan ini dapat membantu mencegah akses tidak sah meskipun password pengguna telah diketahui pihak lain.
Terapkan prinsip least privilege
Setiap pengguna sebaiknya hanya diberikan akses ke aplikasi dan data yang memang dibutuhkan untuk menjalankan pekerjaannya. Pendekatan ini dikenal sebagai principle of least privilege. Sebagai contoh, staf keuangan tidak perlu memiliki akses ke sistem administrasi jaringan, sementara tim HR tidak memerlukan akses ke aplikasi pengelolaan server. Dengan membatasi hak akses sesuai peran, organisasi dapat mengurangi dampak apabila suatu akun berhasil dikompromikan. Selain itu Anda juga bisa menggunakan solusi manajemen akses user untuk mempermudah implementasinya.
Kelola identitas pengguna secara terpusat
Mengintegrasikan SSO dengan layanan direktori Active Directory atau platform Identity and Access Management (IAM) membantu organisasi mengelola identitas pengguna secara lebih konsisten.
Ketika ada karyawan baru bergabung, berpindah divisi, atau keluar dari perusahaan, administrator cukup memperbarui satu identitas utama. Perubahan tersebut kemudian dapat diterapkan secara otomatis ke seluruh aplikasi yang terhubung sehingga mengurangi risiko akun yang masih aktif setelah pengguna tidak lagi membutuhkannya.
Lakukan audit dan tinjau hak akses secara berkala

Hak akses pengguna dapat berubah seiring perubahan jabatan, proyek, maupun struktur organisasi. Oleh karena itu, organisasi perlu melakukan peninjauan akses secara berkala untuk memastikan setiap pengguna masih memiliki izin yang sesuai.
Selain membantu menjaga keamanan, audit akses juga memudahkan organisasi memenuhi persyaratan kepatuhan, seperti UU PDP maupun ISO/IEC 27001, yang menekankan pentingnya pengelolaan akses dan pencatatan aktivitas pengguna.
Pantau aktivitas autentikasi secara real-time

Pemantauan aktivitas login membantu tim IT mendeteksi perilaku yang mencurigakan sejak dini. Misalnya, login dari lokasi yang tidak biasa, percobaan login berulang, atau akses dari perangkat yang belum pernah digunakan sebelumnya. Memanfaatkan adaptive autentikasi dan sistem pemantauan keamanan, organisasi dapat merespons potensi ancaman lebih cepat sebelum berkembang menjadi insiden keamanan yang lebih besar.
Terapkan kebijakan sesi dan token yang aman
Pada implementasi SSO, pengguna memperoleh token autentikasi yang digunakan untuk mengakses berbagai aplikasi. Oleh karena itu, organisasi perlu mengelola token dan sesi login dengan baik.
Beberapa praktik yang dapat diterapkan antara lain menetapkan masa berlaku token yang sesuai, mengaktifkan logout otomatis saat sesi tidak aktif, serta memastikan seluruh komunikasi menggunakan koneksi terenkripsi (HTTPS). Langkah-langkah ini membantu mengurangi risiko penyalahgunaan token apabila perangkat pengguna hilang atau berhasil dikompromikan.
Bagaimana memilih solusi Single Sign-On (SSO)?
Memilih solusi Single Sign-On tidak hanya tentang menyediakan fitur login satu kali. Organisasi juga perlu memastikan bahwa solusi tersebut dapat terintegrasi dengan infrastruktur yang sudah ada, mendukung kebutuhan keamanan, serta mampu berkembang seiring bertambahnya jumlah pengguna dan aplikasi.
Berikut beberapa hal yang sebaiknya dipertimbangkan sebelum memilih solusi SSO.
1. Dukungan terhadap berbagai protokol autentikasi
Setiap organisasi menggunakan kombinasi aplikasi yang berbeda, mulai dari aplikasi internal hingga layanan SaaS. Karena itu, pilih solusi SSO yang mendukung standar autentikasi umum seperti SAML 2.0, OAuth 2.0, dan OpenID Connect (OIDC). Dukungan terhadap berbagai protokol akan memudahkan integrasi dengan aplikasi lama maupun modern tanpa perlu melakukan perubahan besar pada infrastruktur yang sudah ada.
2. Kemudahan integrasi dengan layanan direktori
Banyak organisasi di Indonesia masih menggunakan Active Directory sebagai pusat pengelolaan identitas pengguna. Oleh karena itu, solusi SSO sebaiknya dapat terintegrasi secara native dengan Active Directory maupun layanan direktori lainnya sehingga proses onboarding, perubahan hak akses, dan offboarding pengguna dapat dilakukan secara lebih efisien.
3. Fitur keamanan yang lengkap
SSO sebaiknya tidak hanya menyederhanakan proses login, tetapi juga membantu meningkatkan keamanan organisasi. Pilih solusi yang mendukung Multi-Factor Authentication (MFA), kebijakan akses berbasis risiko, pembatasan akses berdasarkan perangkat atau lokasi, serta kemampuan untuk memantau aktivitas login secara real-time.
4. Kemudahan pengelolaan pengguna
Semakin besar organisasi, semakin kompleks pula pengelolaan identitas pengguna. Solusi SSO yang baik memungkinkan administrator mengelola hak akses dari satu dashboard, melakukan provisioning maupun deprovisioning akun dengan lebih cepat, serta meminimalkan konfigurasi manual di setiap aplikasi.
5. Dukungan audit dan kepatuhan
Kemampuan mencatat aktivitas autentikasi dan perubahan hak akses menjadi aspek penting bagi organisasi yang harus memenuhi persyaratan audit maupun regulasi, seperti UU PDP dan ISO/IEC 27001. Audit log yang lengkap membantu tim IT melacak aktivitas pengguna serta mempermudah proses investigasi apabila terjadi insiden keamanan.
6. Skalabilitas dan kemudahan implementasi
Kebutuhan organisasi akan terus berkembang seiring bertambahnya jumlah pengguna, aplikasi, maupun lokasi kerja. Karena itu, pilih solusi yang dapat diimplementasikan pada lingkungan on-premises, cloud, maupun hybrid, serta mampu mendukung pertumbuhan organisasi tanpa memerlukan perubahan infrastruktur yang signifikan.
Siap menerapkan? Coba ManageEngine ADSelfService Plus untuk implementasi SSO!
Bagi organisasi yang menggunakan Active Directory, ManageEngine ADSelfService Plus menyediakan kemampuan Single Sign-On (SSO) yang terintegrasi langsung dengan infrastruktur identitas yang sudah ada. Dengan demikian, organisasi tidak perlu membangun sistem autentikasi baru untuk memberikan pengalaman login yang lebih sederhana dan aman.
ADSelfService Plus mendukung berbagai protokol autentikasi, termasuk SAML 2.0, OAuth 2.0, dan OpenID Connect (OIDC), sehingga dapat diintegrasikan dengan ratusan aplikasi cloud maupun aplikasi internal perusahaan.
Selain menyediakan SSO, solusi ini juga dilengkapi berbagai fitur yang membantu organisasi memperkuat keamanan identitas, antara lain:
Single Sign-On ke lebih dari 100 aplikasi bisnis dan layanan cloud.
Integrasi native dengan Active Directory dan Microsoft Entra ID.
Multi-Factor Authentication (MFA) adaptif untuk meningkatkan keamanan proses login.
Self-Service Password Reset (SSPR) yang membantu mengurangi tiket helpdesk terkait password.
Audit log autentikasi untuk memantau aktivitas login dan mendukung kebutuhan audit.
Dukungan deployment on-premises maupun cloud sesuai kebutuhan organisasi.

