Manajemen Operasi IT Terpadu

Manajemen operasi IT terpadu adalah proses terstruktur yang dirancang untuk membantu admin IT memaksimalkan pemanfaatan infrastruktur IT mereka. Beberapa komponen utama dalam proses manajemen operasi IT mencakup:

Meskipun untuk setiap proses manajemen operasi IT sudah tersedia berbagai tool khusus di pasaran yang dapat digunakan guna implementasi yang efisien, hal ini tidak mengurangi jumlah admin IT yang masih perlu menerapkan pendekatan manajemen jaringan terpadu. Hal ini terutama dipicu oleh berbagai tantangan yang admin IT hadapi ketika menggunakan tool yang berbeda dalam setiap proses ini.

1. Berpindah antar aplikasi yang berbeda

Manajemen operasi IT bukanlah satu proses tunggal, melainkan gabungan dari banyak proses. Artinya, untuk menerapkan manajemen infrastruktur IT, secara menyeluruh, admin IT secara konsisten berpindah antar berbagai tool yang digunakan untuk setiap proses.

Meskipun proses ini memberikan perspektif tentang bagaimana infrastruktur IT berjalan, admin IT tetap tidak bisa melihat gambaran secara menyeluruh. Proses ini juga memakan waktu dan tenaga ekstra, serta sering kali membuat admin IT melewatkan update penting pada satu tool saat sedang fokus menggunakan tool yang lain.

2. Memastikan konsistensi update di jaringan

Saat melakukan update pada sebuah perangkat, admin IT perlu memastikan bahwa update tersebut juga tercermin di berbagai tool manajemen operasi IT. Proses ini menimbulkan dua tantangan utama:

  • Masalah beban manual: Admin IT harus mengupdate informasi secara manual di setiap tool yang dipakai dalam manajemen operasi IT. Aktivitas ini tidak scalable jika perubahan dilakukan pada banyak perangkat sekaligus.
  • Masalah inkonsistensi perubahan: Efisiensi manajemen operasi IT sangat bergantung pada kemampuan admin IT untuk menggabungkan data dari berbagai tool demi mendapatkan gambaran menyeluruh. Jika perubahan tidak konsisten antar tool, maka informasi monitoring/manajemen yang ditampilkan oleh berbagai tool juga menjadi tidak konsisten. 

    Hal ini bisa menimbulkan ketidaksesuaian dalam siklus proses manajemen operasi IT dan pada akhirnya membuat perusahaan tidak bisa memaksimalkan hasil dari proses manajemen operasi IT mereka.

3. Mendapatkan visibilitas yang tepat

Visibilitas yang diperoleh admin dari berbagai tool manajemen operasi IT umumnya terbatas, dan menggabungkan data serta insight dari beragam tool untuk mendapatkan gambaran menyeluruh tentang efisiensi infrastruktur IT merupakan proses yang kompleks dan memakan waktu.

4. Menyiapkan dan mengelola alert serta notifikasi

Tujuan utama dari proses manajemen operasi IT adalah mengidentifikasi gangguan (fault) agar admin IT bisa segera menanganinya sebelum menimbulkan kerugian bisnis. Hal ini umumnya dilakukan dengan memicu alert dan notifikasi setiap kali ada masalah yang muncul.

Namun, saat setiap proses manajemen operasi IT ditangani dengan tool yang berbeda, masing-masing tool tersebut memiliki struktur dan teknologi notifikasinya sendiri.

Dampaknya adalah:

  • Menambahkan profil notifikasi secara manual di setiap tool. Admin IT harus membuat notifikasi untuk perangkat atau use case secara manual di masing-masing tool. Hal ini jelas membutuhkan upaya manual dan manajemen yang lebih rumit.
  • Mengelola inventory profil notifikasi. Profil notifikasi yang dibuat untuk berbagai skenario atau perangkat harus konsisten. Admin IT juga perlu mengelola inventory terpisah untuk konfigurasi notifikasi agar dapat menilai masalah yang terjadi pada infrastruktur IT secara efisien.

5. Menangani tantangan kompleks dalam fault management

Jika profil notifikasi Anda tidak dikelola dengan baik, proses fault management menjadi tidak efektif. Dengan setiap tool memiliki profil notifikasinya sendiri, admin IT dihadapkan dengan tantangan untuk menghubungkan notifikasi dari berbagai tool, menemukan perangkat yang terdampak, lalu kembali ke tool terkait untuk menjalankan operasi fault management yang diperlukan.

Misalnya: Bayangkan sebuah server tiba-tiba down dan harus segera dikembalikan online dengan melakukan restore backup. Untuk itu, admin perlu mengimplementasikan konfigurasi dan restore server secara langsung.

Biasanya, admin IT akan menerima notifikasi “server down” dari tool manajemen jaringan, kemudian membuka tool manajemen konfigurasi, dan mendorong detail konfigurasi server backup agar pengaturan server dapat dipulihkan. Bila seluruh proses ini selesai, server akhirnya bisa kembali online.

6. Mengatasi kompleksitas multi-lisensi

Salah satu aspek penting dalam menggunakan berbagai tool untuk mengimplementasikan proses manajemen operasi IT adalah mengelola lisensi dari masing-masing tool tersebut.

Masalah yang bisa muncul saat menggunakan banyak tool untuk manajemen operasi IT adalah:

  • Admin IT harus melacak detail lisensi untuk masing-masing tool secara individual. Ini kembali menimbulkan masalah konsistensi, karena admin IT harus memastikan semua perangkat, monitor, dan parameter penting sudah dilisensi di setiap tool yang dibutuhkan. 

    Jika tidak, beberapa perangkat penting bisa saja tidak termonitor atau tidak terkelola oleh sebuah tool hanya karena keterbatasan lisensi. Hal ini dapat mengganggu visibilitas admin IT terhadap perangkat/monitor tersebut.
  • Jika setiap tool memiliki model lisensi yang berbeda, menjaga inventory dan melacak masing-masing lisensi secara terpisah bisa menjadi beban yang besar. Perusahaan tentu saja selalu memiliki opsi untuk berinvestasi pada tool khusus manajemen lisensi, tetapi itu hanya akan menambah biaya manajemen operasi IT.

7. Menghadapi kapabilitas integrasi yang heterogen antar berbagai tool

Tujuan dari strategi manajemen operasi IT yang dirancang dengan baik adalah menggabungkan insight penting dari setiap proses (seperti monitoring jaringan, monitoring aplikasi, analisis firewall, manajemen bandwidth, dan lain-lain) untuk mendapatkan gambaran menyeluruh atas performa infrastruktur IT. Cara ini akan membantu admin IT dalam mengisolasi dan melakukan troubleshooting fault, sekaligus memaksimalkan biaya yang telah diinvestasikan ke dalam infrastruktur IT mereka.

Untuk mewujudkan hal ini, integrasi menjadi aspek utama. Secara garis besar, integrasi dapat dibagi menjadi dua kategori:

  • Integrasi intra-fungsional: Mengintegrasikan komponen manajemen operasional IT itu sendiri, seperti monitoring jaringan, analisis firewall, manajemen konfigurasi, manajemen bandwidth dan traffic, manajemen IP address dan port switch, manajemen jaringan, monitoring aplikasi, hingga manajemen penyimpanan.
  • Integrasi eksternal: Mengintegrasikan tool manajemen operasional IT dengan ITSM lain, platform komunikasi, maupun tool eksternal lain seperti ServiceNow, Slack, AlarmsOne, dan lainnya untuk mengubah data monitoring yang didapat dari tool tersebut menjadi actionable item sehingga gangguan IT dapat segera diselesaikan.

Ketika menggunakan banyak tool untuk manajemen operasi IT, masing-masing tool biasanya memiliki set integrasi intra/eksternal-nya sendiri. Konsep intra-integrasi antar berbagai proses pun sering kali diabaikan, kecuali jika beberapa tool dibeli dari vendor yang sama.

Memiliki integrasi eksternal yang berbeda juga bisa menjadi tantangan tersendiri. Misalnya, tool manajemen jaringan dan tool manajemen konfigurasi terhubung ke dua tool ITSM yang berbeda. Hal ini menyebabkan proses fault management menjadi rumit, tiket layanan terpecah ke sistem yang berbeda, dan akhirnya membuat support engineer semakin kesulitan menangani kekacauan tersebut. Hal ini juga sering memaksa perusahaan agar berinvestasi pada tool tambahan untuk mendukung operasi fault management tingkat lanjut.

OpManager Nexus: lebih dari manajemen operasi IT yang terpadu

OpManager Nexus adalah solusi manajemen operasi IT terpadu yang menyatukan seluruh proses manajemen operasi Anda dalam satu konsol.

Dapatkan tampilan menyeluruh atas seluruh infrastruktur IT dengan dashboard dan NOC view.

Sebagai tool manajemen operasi IT yang holistik, OpManager Nexus menggabungkan seluruh proses operasi IT ke dalam satu konsol. Admin IT dapat menempatkan widget dan grafik penting dari berbagai proses, termasuk manajemen jaringan, manajemen konfigurasi, manajemen port switch, dan lainnya ke dalam satu layar.

Dengan NOC view, visibilitas terhadap seluruh proses manajemen operasi jaringan menjadi semakin mendalam. Admin IT tidak hanya mendapatkan gambaran menyeluruh dari satu layar, tetapi juga melihat update secara real time.

Manajemen Operasi IT Terpadu - ManageEngine OpManager Nexus

Operasi fault management lintas fungsi dengan Workflow

Dengan fitur Workflow di OpManager Nexus, Anda dapat menjalankan aktivitas fault management pada level manajemen operasi IT. Kapabilitas Workflow yang canggih memungkinkan Anda menjalankan operasi fault management baik pada level manajemen performa jaringan maupun manajemen konfigurasi, semuanya cukup dari satu diagram Workflow.

ITOM Terpadu - ManageEngine OpManager Nexus

Alert dan notifikasi terpusat

OpManager Nexus memungkinkan admin IT mengonfigurasi profil notifikasi secara universal di seluruh proses manajemen operasi IT. Tool manajemen operasi IT yang terpadu ini membantu Anda memastikan setiap alert yang muncul, baik satu atau banyak sekaligus, tetap tertangani dengan baik.

Satu profil notifikasi dapat digunakan untuk berbagai skenario. Ketika Anda menerima banyak notifikasi untuk satu masalah yang sama dari berbagai tool, mencocokkan notifikasi dengan perangkat yang tepat bisa menjadi rumit. Namun, dengan adanya profil notifikasi, kerumitan ini bisa dihindari sepenuhnya.

Monitoring Operasi IT Terpadu - ManageEngine OpManager Nexus

Model lisensi terpadu

Berbeda dengan kebanyakan vendor, OpManager Nexus, sebagai tool manajemen jaringan terpadu, menggunakan model lisensi tunggal untuk berbagai proses manajemen operasi IT. Model terpadu ini menghilangkan kebutuhan membeli lisensi terpisah untuk setiap proses manajemen operasi IT Anda sekaligus mengurangi kerepotan melacak berbagai model lisensi untuk berbagai tool/proses.

Integrasi dengan tool eksternal

OpManager Nexus menawarkan monitoring infrastruktur terpadu dengan membawa manajemen operasi IT melampaui sekadar deteksi dan isolasi gangguan. Dari satu konsol, alert dari berbagai proses manajemen operasi IT dapat langsung diubah menjadi actionable item melalui integrasi dengan berbagai tool eksternal seperti tool ITSM, tool manajemen alarm, tool komunikasi, dan lainnya.

Integrasi terpadu ITOM-ITSM ini memungkinkan alert diubah menjadi actionable item, dan membantu admin IT mengambil tindakan yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah yang teridentifikasi. Hasilnya, bukan hanya menghemat tenaga fisik dan mental, tetapi juga biaya.

Tool Manajemen Operasi IT Terpadu - ManageEngine OpManager Nexus

Coba uji coba gratis 30 hari kami dan pelajari bagaimana implementasi solusi manajemen dan monitoring operasi IT yang terpadu seperti OpManager Nexus dapat meningkatkan efisiensi monitoring jaringan Anda. Anda juga bisa mengajukan request demo personal yang disesuaikan dengan kebutuhan Anda, dan pahami bagaimana implementasi solusi ITOM yang terpadu akan menguntungkan Anda.