6+ Tren Cybersecurity 2026 di Indonesia yang Wajib Anda Ketahui

Melihat eskalasi serangan siber sepanjang 2024 dan berbagai upaya penguatan keamanan yang mulai dilakukan organisasi di 2025, semakin jelas bahwa tantangan terbesar justru akan muncul di 2026, ketika serangan siber semakin terotomatisasi, berbasis AI, serta menargetkan identitas dan supply chain digital.

Sepanjang semester pertama 2024, tercatat 2,49 miliar serangan siber di Indonesia, angka ini melonjak drastis dari 347 juta pada periode yang sama tahun lalu. Artinya, ada rata-rata 13,7 juta serangan per hari, atau 158 serangan per detik!

"Salah satu insiden besarnya ialah kasus Pusat Data Nasional (PDN), yang melumpuhkan 282 instansi pemerintah mulai dari kementerian, lembaga, hingga pemerintah daerah di Surabaya. Di bulan September 2024, giliran platform perdagangan aset kripto Indodax yang diretas, menimbulkan kerugian US$22 juta atau Rp337,4 miliar."

Memasuki 2026, fokus keamanan siber pun bergeser. Bukan lagi sekadar apakah organisasi akan diserang, tetapi seberapa cepat mereka mampu mendeteksi, merespons, dan pulih tanpa menghentikan operasional bisnis.

Lantas, apa saja tren cyber security yang akan mendefinisikan 2026, dan bagaimana organisasi di Indonesia seharusnya mulai mempersiapkan diri dari sekarang?

1. Serangan ransomware yang semakin canggih

Ransomware diperkirakan tetap menjadi salah satu ancaman siber terbesar hingga 2026. Perbedaannya, serangan tidak lagi dilakukan secara acak, melainkan semakin terarah dan terotomatisasi, dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan efektivitas serangan. Para pelaku serangan akan meningkatkan teknik enkripsi dan taktik social engineering, metode enkripsi yang semakin kompleks, serta skema double hingga multi-extortion, tidak hanya mencuri data, tetapi juga mengancam publikasi data atau penghentian layanan jika tebusan tidak dibayar. Kondisi ini membuat proses pemulihan data dan sistem menjadi semakin rumit.

Berbagai sektor seperti kesehatan, keuangan, dan infrastruktur menjadi target utama mengingat data yang dikelola vital dan memiliki nilai tinggi. Sudah menjadi keharusan untuk mencegah serangan ransomware dengam pendekatan komprehensif, termasuk sistem backup yang kuat dan kebijakan keamanan yang ketat.

Apa yang sebaiknya Anda lakukan?

  • Menerapkan kebijakan zero trust dan melakukan backup data rutin.

  • Memastikan sistem selalu update  serta melakukan latihan uji coba serangan (penetration testing) secara berkala.

  • Mengedukasi karyawan (seluruh anggota organisasi) dan memperketat kontrol akses untuk meminimalkan risiko ancaman.

2. Penerapan Zero-Trust architecture

Zero Trust diperkirakan akan semakin luas diterapkan hingga 2026. Namun, Zero Trust tidak lagi cukup jika hanya diterapkan sebagai kebijakan statis. Memasuki 2026, organisasi dituntut menerapkan verifikasi berkelanjutan (continuous trust validation) untuk menghadapi ancaman yang semakin dinamis.

Dalam praktiknya, akses ke sistem tidak hanya diverifikasi saat login, tetapi terus dievaluasi berdasarkan konteks dan user behaviour. Perubahan lokasi, perangkat, waktu akses, hingga pola aktivitas yang tidak wajar dapat menjadi sinyal risiko yang memicu pembatasan atau peninjauan ulang akses secara otomatis.

Pendekatan ini menjadi semakin relevan di Indonesia, seiring meningkatnya insider threat, penggunaan kerja jarak jauh, serta serangan yang menargetkan identitas pengguna. Menggunakan model Zero Trust yang adaptif, organisasi dapat mengurangi risiko kebocoran data meskipun kredensial pengguna berhasil dicuri.

Apa yang sebaiknya Anda lakukan?

3. Pemanfaatan dan ancaman Gen-AI

Penggunaan Generative AI (Gen-AI) diperkirakan akan semakin memengaruhi lanskap keamanan siber hingga 2026, baik sebagai tool pertahanan, maupun sebagai senjata baru bagi pelaku kejahatan siber.

Di satu sisi, penyerang memanfaatkan Gen-AI untuk membuat phishing yang semakin meyakinkan, malware yang lebih adaptif, serta deepfake (teks, suara, maupun video) untuk menipu korban. Serangan berbasis AI ini sering kali sulit dibedakan dari aktivitas yang sah, sehingga meningkatkan risiko penipuan identitas, kebocoran data, dan fraud di lingkungan bisnis.

Di sisi lain, Gen-AI juga digunakan oleh organisasi untuk mempercepat deteksi dan respons ancaman, dengan menganalisis pola serangan, perilaku pengguna, dan aktivitas anomali secara lebih cepat dan akurat. Namun tanpa kontrol yang tepat, pemanfaatan AI justru dapat membuka celah baru dalam keamanan.

Apa yang sebaiknya Anda lakukan?

4. Supply chain attack

Serangan terhadap rantai pasok digital (supply chain attack) diperkirakan akan terus meningkat hingga 2026. Seiring semakin banyaknya organisasi bergantung pada vendor, software pihak ketiga, layanan cloud, dan open-source, celah keamanan tidak lagi hanya berasal dari sistem internal, tetapi juga dari ekosistem yang lebih luas.

Penyerang memanfaatkan kepercayaan terhadap pihak ketiga dengan menyusup melalui software, update sistem, atau layanan vendor yang terlihat sah. Jenis serangan ini sering kali sulit terdeteksi karena berasal dari sumber yang dipercaya, sehingga dapat berlangsung lama sebelum disadari.

Di Indonesia, supply chain attack berpotensi memberikan dampak besar, terutama pada sektor e-commerce, logistik, keuangan, pemerintahan, dan layanan publik. Satu celah pada vendor dapat berdampak ke banyak organisasi sekaligus, memicu gangguan operasional dan kebocoran data dalam skala besar.

Apa yang sebaiknya Anda lakukan?

5. Ancaman pengguna cloud security bagi perusahaan

Seiring semakin luasnya adopsi cloud computing di Indonesia, risiko keamanan cloud diperkirakan akan terus meningkat hingga 2026. Tantangan utama tidak selalu berasal dari celah teknologi, tetapi dari kesalahan konfigurasi, kontrol akses yang lemah, serta penggunaan API yang tidak aman.

Banyak organisasi kini menggunakan multi-cloud dan hybrid cloud, di mana data dan aplikasi tersebar di berbagai platform. Kondisi ini membuat visibilitas dan pengelolaan keamanan menjadi lebih kompleks. Satu kesalahan konfigurasi atau kredensial yang bocor dapat membuka akses ke sistem yang lebih luas.

Selain itu, penjahat siber juga memanfaatkan otomatisasi dan AI untuk mempercepat serangan di lingkungan cloud, mulai dari pencurian kredensial, penyalahgunaan API, hingga serangan DDoS yang menargetkan layanan cloud kritikal. Tanpa pemantauan yang memadai, ancaman ini sering kali baru terdeteksi setelah berdampak pada operasional bisnis.

Apa yang sebaiknya Anda lakukan?

  • Melakukan monitoring infrastruktur cloud secara real-time untuk mendeteksi aktivitas tidak wajar.

  • Memastikan konfigurasi cloud dan kontrol akses diterapkan secara konsisten di seluruh platform.

  • Mengamankan akun dengan hak akses tinggi untuk mencegah penyalahgunaan.

  • Melakukan backup data secara terjadwal dan menyimpannya di lokasi terpisah untuk mendukung pemulihan cepat saat terjadi insiden.

6. Potensi dan ancaman IOT

Dengan semakin banyaknya perangkat yang terhubung di berbagai sektor, Internet of Things (IoT) diprediksi akan menjadi tren sekaligus tantangan dalam keamanan siber di Indonesia pada tahun 2026. Perangkat IoT yang kurang diamankan menjadi celah potensial bagi serangan siber seperti ransomware, malware, hingga eksploitasi data pribadi. Serangan ini dapat menargetkan infrastruktur penting, perusahaan, dan rumah tangga, sehingga menimbulkan risiko besar bagi keamanan dan privasi.

Namun, IoT juga membuka peluang untuk meningkatkan efisiensi operasional jika dikelola dengan protokol keamanan yang tepat. Dengan pengelolaan yang baik, perangkat IoT dapat memberikan manfaat tanpa mengorbankan keamanan.

Apa yang sebaiknya Anda lakukan?

  • Pastikan perangkat IoT menggunakan keamanan  seperti enkripsi data dan autentikasi perangkat.

  • Lakukan pemantauan IoT dan terapkan segmentasi jaringan untuk membatasi akses perangkat IoT ke data sensitif.

  • Lakukan pembaruan firmware secara rutin untuk menutup celah keamanan pada perangkat IoT.

7. Kebijakan dan regulasi perlindungan data semakin ketat

Semenjak diberlakukannya Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) pada 17 Oktober 2024, regulasi perlindungan data di Indonesia semakin ketat. UU ini ditujukan untuk melindungi data pribadi individu dari penyalahgunaan, kebocoran, atau eksploitasi yang dapat merugikan pengguna maupun organisasi.

Perusahaan diwajibkan untuk mematuhi standar tertentu, termasuk pengelolaan data yang aman, hingga pemberitahuan jika terjadi pelanggaran data. Ketidakpatuhan terhadap regulasi ini dapat mengakibatkan sanksi berat, baik berupa denda finansial maupun dampak reputasi.  Karenanya, mematuhi kebijakan perlindungan data bukan hanya kewajiban hukum, tetapi juga bagian dari strategi bisnis untuk menjaga kepercayaan pelanggan.

Apa yang sebaiknya Anda lakukan?

  • Melakukan audit kepatuhan (compliance) secara terjadwal untuk mastikan proses pengelolaan data sesuai regulasi yang berlaku.

  • Meningkatkan sistem keamanan data dengan menggunakan auth multi-faktor, pemantauan real time untuk melindungi dari kebocoran atau pencurian.

  • Memastikan organisasi atau perusahaaan Anda memahami ketentuan compliance dan menerapkannya dalam proses pengelolaan data pribadi.

8. Cyber resilience dan otomatisasi incident response

Memasuki 2026, pendekatan keamanan siber tidak lagi berfokus pada mencegah semua serangan, melainkan pada cyber resilience saat serangan berhasil menembus sistem.

Semakin meningkatnya serangan yang terotomatisasi dan berbasis AI, respons manual menjadi terlalu lambat. Banyak organisasi mulai beralih ke incident response yang terotomatisasi, di mana deteksi, analisis, dan respons awal dapat dilakukan dalam hitungan menit, bukan jam atau hari.

Cyber resilience menekankan pada kesiapan sebelum, saat, dan setelah insiden, termasuk visibilitas log, korelasi ancaman, respons cepat, serta pemulihan layanan tanpa menghentikan operasional bisnis.

Apa yang sebaiknya Anda lakukan?

9. Identitas digital sebagai target utama serangan

Di 2026, identitas digital diprediksi menjadi target utama serangan siber. Banyak insiden keamanan tidak lagi diawali dari eksploitasi celah teknis, tetapi dari penyalahgunaan kredensial pengguna, baik melalui phishing, malware, maupun deepfake berbasis AI. Mengingat semakin banyaknya aplikasi cloud, sistem remote work, dan akses pihak ketiga, identitas pengguna menjadi gerbang utama menuju sistem dan data sensitif. Jika identitas berhasil dikompromikan, penyerang sering kali dapat bergerak tanpa terdeteksi dalam waktu lama.

Oleh karena itu, keamanan siber di 2026 semakin bergeser ke pendekatan identity-first security, di mana pemantauan perilaku pengguna dan kontrol akses adaptif menjadi kunci utama.

Apa yang sebaiknya Anda lakukan?

  • Memperkuat perlindungan identitas dengan MFA dan kontrol akses berbasis risiko.

  • Memantau perilaku pengguna untuk mendeteksi aktivitas yang tidak sesuai pola normal.

  • Membatasi hak akses berdasarkan prinsip least privilege.

  • Meninjau dan menyesuaikan akses pengguna secara berkala, termasuk akun dengan hak istimewa.

Siap menghadapi tantangan keamanan 2026?

Tren cybersecurity di tahun 2026 akan membawa tantangan baru sekaligus peluang besar bagi perusahaan di Indonesia. Semakin meningkatnya kompleksitas ancaman seperti ransomware, serangan berbasis AI, dan risiko di lingkungan cloud dan IoT, organisasi dituntut untuk lebih waspada dan proaktif dalam melindungi aset digital.

Menerapkan langkah-langkah seperti pendekatan Zero Trust, pemantauan real-time, kepatuhan terhadap regulasi, menggunakan layanan IT tepercaya Anda dapat memperkuat pertahanan dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan mendatang.