Kesiapan Regulasi OJK: Membangun Ketahanan Siber yang Resilien di Sektor Keuangan

Sektor keuangan Indonesia menghadapi tekanan yang semakin besar untuk menjaga keamanan sistem dan memastikan layanan tetap berjalan stabil. Sebagai regulator utama industri jasa keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendorong institusi keuangan untuk memperkuat ketahanan siber seiring meningkatnya kompleksitas ancaman digital.

Melalui regulasi seperti SEOJK 29/2022, organisasi tidak hanya dituntut untuk mengelola risiko, tetapi juga membangun kemampuan deteksi, respons insiden, serta tata kelola teknologi yang lebih matang. Kesiapan terhadap regulasi pun kini menjadi pertimbangan penting, tidak hanya dalam audit, tetapi juga saat organisasi mengevaluasi strategi teknologi dan memilih mitra yang tepat.

 

SEOJK 29/2022: Memperkuat ketahanan dan keamanan siber perbankan  

Seiring meningkatnya kompleksitas ancaman digital, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan SEOJK 29/SEOJK.03/2022 untuk mendorong institusi keuangan membangun kerangka keamanan siber yang lebih matang dan terukur.

Regulasi ini menekankan bahwa ketahanan siber bukan hanya tanggung jawab teknis, tetapi bagian dari tata kelola risiko dan stabilitas operasional organisasi.

Dalam implementasinya, institusi keuangan diharapkan membangun kapabilitas yang mencakup:

  • Identifikasi aset dan penilaian risiko untuk memahami area paling kritikal dalam operasional.

  • Penerapan kontrol proteksi guna melindungi sistem, jaringan, dan data dari potensi ancaman.

  • Mekanisme deteksi dini untuk mengidentifikasi aktivitas mencurigakan secara real-time.

  • Proses respons insiden yang terstruktur serta pengujian berkala untuk memastikan kesiapan.

  • Evaluasi tingkat kematangan keamanan secara periodik guna memperkuat governance dan resiliensi.

Selain itu, SEOJK 29/2022 juga mendorong pendekatan pengelolaan IT yang lebih strategis dan berbasis risiko, termasuk:

  • Penyelarasan strategi TI dengan tujuan bisnis

  • Identifikasi serta mitigasi risiko TI secara berkelanjutan

  • Monitoring performa layanan dan insiden secara konsisten

  • Penerapan audit trail sebagai bagian dari kontrol operasional

 

Apa saja tantangan institusi keuangan dalam memenuhi SEOJK 29/2022?

Meski kerangka keamanan yang ditetapkan regulator semakin jelas, implementasinya tidak selalu sederhana. Banyak institusi keuangan harus menyesuaikan strategi keamanan mereka dengan lanskap TI yang terus berkembang mulai dari adopsi cloud hingga meningkatnya penggunaan layanan digital.

Beberapa tantangan yang paling sering dihadapi meliputi:

  • Visibilitas keamanan yang belum terpusat
    Data log dan aktivitas sistem sering tersebar di berbagai tools dan platform, sehingga menyulitkan tim dalam mendapatkan gambaran risiko secara menyeluruh.

  • Lingkungan TI yang semakin kompleks
    Infrastruktur hybrid membuat proses monitoring, pengamanan, dan pengelolaan aset menjadi lebih menantang jika tidak didukung pendekatan yang terintegrasi.

  • Deteksi dan respons insiden yang belum optimal
    Tanpa mekanisme deteksi yang kuat, ancaman berpotensi terlambat teridentifikasi dan meningkatkan dampak terhadap operasional.

  • Tekanan terhadap kesiapan audit dan pelaporan
    Mengumpulkan bukti aktivitas dan menyusun laporan secara manual dapat memakan waktu serta berisiko menimbulkan ketidakkonsistenan.

  • Pengelolaan identitas dan hak akses yang semakin dinamis
    Bertambahnya jumlah pengguna dan sistem meningkatkan risiko akses tidak sah apabila tidak dikontrol secara ketat.

 

Bagaimana ManageEngine mendukung kesiapan terhadap SEOJK 29/2022?

Memenuhi ekspektasi regulator membutuhkan lebih dari sekadar kontrol keamanan tambahan, organisasi perlu memastikan bahwa monitoring, governance, dan respons insiden berjalan secara konsisten dan terintegrasi. ManageEngine membantu institusi keuangan membangun fondasi tersebut melalui pendekatan terpadu yang meningkatkan visibilitas, memperkuat kontrol, serta menyederhanakan operasional keamanan.

Ekspektasi Regulasi

Kapabilitas yang Dibutuhkan

Dukungan ManageEngine

Identifikasi risiko dan monitoring berkelanjutan

Visibilitas end-to-end terhadap aktivitas sistem dan jaringan

Log360 membantu mengkorelasikan log dari berbagai sumber untuk meningkatkan deteksi ancaman secara real-time.

Deteksi dan respons insiden

Kemampuan investigasi dan respons yang cepat

Log360 menyediakan alert otomatis, threat intelligence, serta forensic search untuk mempercepat penanganan insiden.

Audit trail dan pelaporan

Dokumentasi aktivitas yang terpusat dan siap audit

Log360 menyediakan built-in reporting mempermudah tim dalam menyiapkan bukti kepatuhan dan kebutuhan investigasi.

Tata kelola identitas dan hak akses

Kontrol akses yang kuat dan terukur

AD360 dan ADAudit Plus membantu memantau perubahan hak akses serta menjaga governance identitas.

Privileged access security

Perlindungan terhadap akun dengan tingkat akses tinggi

PAM360 memungkinkan pengelolaan privileged access secara terpusat sekaligus mengurangi risiko penyalahgunaan.

Ketersediaan layanan dan ketahanan operasional

Monitoring infrastruktur secara proaktif

OpManager membantu memastikan performa dan availability layanan tetap terjaga.

Respons operasional yang terstruktur

Proses insiden dan eskalasi yang terdokumentasi

ServiceDesk Plus membantu menstandarisasi manajemen insiden dan workflow eskalasi, memastikan setiap penanganan terdokumentasi dengan baik serta meningkatkan kontrol operasional.

 

POJK NO 11/POJK.03/2022: Memperkuat Tata Kelola TI 

Selain ketahanan siber, OJK juga menekankan pentingnya tata kelola teknologi informasi melalui POJK NO. 11/POJK.03/2022. Regulasi ini mendorong institusi keuangan untuk memastikan bahwa strategi IT selaras dengan tujuan bisnis, didukung oleh manajemen risiko yang terstruktur, serta diawasi secara berkelanjutan untuk menjaga stabilitas layanan.

Bagi organisasi, governance yang kuat menjadi fondasi penting untuk mengelola risiko teknologi, meningkatkan transparansi operasional, serta memastikan kesiapan dalam menghadapi audit dan evaluasi regulator.

Berikut adalah beberapa kapabilitas utama yang diharapkan serta bagaimana pendekatan teknologi yang tepat dapat membantu mendukung implementasinya:

Ekspektasi Governance

Kapabilitas yang Dibutuhkan

Dukungan ManageEngine

Penyelarasan strategi TI dengan kebutuhan bisnis

Pengelolaan layanan TI yang terstruktur

ServiceDesk Plus membantu mengelola layanan dan workflow TI secara terpusat, mendukung konsistensi delivery layanan.

Monitoring performa dan ketersediaan sistem

Visibilitas real-time terhadap infrastruktur

OpManager memungkinkan tim memantau jaringan dan server secara proaktif untuk mengurangi potensi downtime.

Manajemen risiko operasional

Monitoring aktivitas dan deteksi anomali

Log360 membantu meningkatkan visibilitas risiko melalui korelasi log dan alert otomatis.

Kontrol internal dan audit trail

Dokumentasi aktivitas yang transparan

ADAudit Plus menyediakan pelacakan aktivitas untuk memperkuat governance dan kesiapan audit.

Pengelolaan insiden dan perubahan

Proses yang terdokumentasi dan terstandarisasi

ServiceDesk Plus mendukung manajemen insiden dan perubahan agar lebih terkendali.

Seiring meningkatnya ekspektasi regulator, kesiapan terhadap keamanan dan tata kelola TI tidak lagi sekadar kebutuhan kepatuhan, tetapi telah menjadi bagian dari strategi untuk menjaga stabilitas operasional dan kepercayaan pelanggan.

 

Apa langkah selanjutnya?

Jadwalkan demo dengan tim ManageEngine untuk melihat bagaimana pendekatan terintegrasi dapat membantu organisasi Anda mendukung kesiapan terhadap regulasi OJK.